Warung Online

30 November, 2008

TUGAS IPA KELOMPOK 1 XI MULTIMEDIA 1

Kelompok 1:
Ade N
Ade R
Ade Yanti Febrianti
Ayu B
Aztri H
Bunga R
Dina R
 
 
http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=244
1.       Pendahuluan 
Polusi udara perkotaan diperkirakan memberi kontribusi bagi 800.000 kematian tiap tahun (WHO/UNEP). Saat ini banyak negara berkembang menghadapi masalah polusi udara yang jauh lebih serius dibandingkan negara maju. Contoh klasik pengaruh polusi udara terhadap kesehatan dapat dilihat pada kota-kota di negara maju seperti Meuse Valley, Belgia tahun 1930; Donora, Pennsylvania tahun 1948; dan London, Inggris tahun 1952; di mana terjadi peningkatan angka kematian (mortalitas) dan kesakitan (morbiditas) akibat polusi udara yang berakibat pada penurunan produktivitas dan peningkatan pembiayaan kesehatan. Oleh sebab itu polusi udara juga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting.  
Di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Menurut World Bank, dalam kurun waktu 6 tahun sejak 1995 hingga 2001 terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar hampir 100%. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misal: kadar timbal/Pb yang tinggi) . World Bank juga menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City. Polusi udara yang terjadi sangat berpotensi menggangu kesehatan.  Menurut perhitungan kasar dari World Bank tahun 1994 dengan mengambil contoh kasus kota Jakarta, jika konsentrasi partikulat (PM) dapat diturunkan sesuai standar WHO, diperkirakan akan terjadi penurunan tiap tahunnya:  1400 kasus kematian bayi prematur; 2000 kasus rawat di RS, 49.000 kunjungan ke gawat darurat;  600.000 serangan asma; 124.000 kasus bronchitis pada anak; 31 juta gejala penyakit saluran pernapasan serta peningkatan efisiensi 7.6 juta hari kerja yang hilang akibat penyakit saluran pernapasan - suatu jumlah yang sangat signifikan dari sudut pandang kesehatan masyarakat. Dari sisi ekonomi pembiayaan kesehatan (health cost) akibat polusi udara di Jakarta diperkirakan mencapai hampir 220 juta dolar pada tahun 1999.     
2.       Polusi Udara 
Polusi udara berasal dari berbagai sumber, dengan hasil pembakaran bahan bakar fosil merupakan sumber utama. Contoh sederhana adalah pembakaran mesin diesel yang dapat menghasilkan partikulat (PM), nitrogen oksida, dan precursor ozon yang semuanya merupakan polutan berbahaya.  Polutan yang ada diudara dapat berupa gas (misal SO2, NOx, CO, Volatile Organic Compounds) ataupun partikulat.  Polutan berupa partikulat tersuspensi, disebut juga PM (Particulate Matter) merupakan salah satu komponen penting terkait dengan pengaruhnya terhadap kesehatan. PM dapat diklasifikasikan menjadi 3; yaitu coarse PM (PM kasar atau PM2,5-10) berukuran 2,5-10 μm, bersumber dari abrasi tanah, debu jalan (debu dari ban atau kampas rem), ataupun akibat agregasi partikel sisa pembakaran. Partikel seukuran ini dapat masuk dan terdeposit di saluran pernapasan utama pada paru (trakheobronkial); sedangkan fine PM (<2,5 μm) dan ultrafine (<0,1 μm) berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan dapat dengan mudah terdeposit dalam unit terkecil saluran napas (alveoli) bahkan dapat masuk ke sirkulasi darah sistemik. Klasifikasi berdasar ukuran ini juga terkait dengan akibat buruk partikel tersebut terhadap kesehatan sehingga WHO dan juga US Environmental Protection Agency menetapkan standar PM dan polutan lain untuk digunakan sebagai dasar referensi (Tabel 1).  
Tabel 1. Standar polutan udara menurut EPA 
Pollutan                                                Waktu
PM10 (μg/m3)                                                   150 (/24jam)                        50 (/tahun)
PM2,5 (μg/m3)                                                   65 (/24 jam)                       15 (/tahun)
Ozone (ppm)                                             0.12 (/1jam)                    0.08 (/8 jam)
NO2 (ppm)                                                                                         0.053 (/tahun)
SO2 (ppm)                                                       0.14 (/24 jam)               0.03 (/tahun)
3.       Mekanisme terjadinya gangguan kesehatan akibat polusi udara secara umum 
Efek yang ditimbulkan oleh polutan tergantung dari besarnya pajanan (terkait dosis/kadarnya di udara dan lama/waktu pajanan) dan juga faktor kerentanan host (individu) yang bersangkutan (misal: efek buruk lebih mudah terjadi pada anak, individu pengidap penyakit jantung-pembuluh darah dan pernapasan, serta penderita diabetes melitus).  Pajanan polutan udara dapat mengenai bagian tubuh manapun, dan tidak terbatas pada inhalasi ke saluran pernapasan saja. Sebagai contoh, pengaruh polutan udara juga dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan mata. Namun demikian, sebagian besar penelitian polusi udara terfokus pada efek akibat inhalasi/terhirup melalui saluran pernapasan mengingat saluran napas merupakan pintu utama masuknya polutan udara kedalam tubuh. Selain faktor zat aktif yang dibawa oleh polutan tersebut, ukuran polutan juga menentukan lokasi anatomis terjadinya deposit polutan dan juga efeknya terhadap jaringan sekitar. Fine PM (<1 μm) dapat dengan mudah terserap masuk ke pembuluh darah sistemik. Indikator akibat pajanan jangka pendek dan jangka panjang polutan terhadap kesehatan dapat dilihat pada Tabel 2. 
Berikut ini beberapa mekanisme biologis bagaimana polutan udara mencetuskan gejala penyakit:
  1. Timbulnya reaksi radang/inflamasi pada paru, misalnya akibat PM atau ozon.
  2. Terbentuknya radikal bebas/stres oksidatif, misalnya PAH(polyaromatic hydrocarbons).
  3. Modifikasi ikatan kovalen terhadap protein penting intraselular seperti enzim-enzim yang bekerja dalam tubuh.
  4. Komponen biologis yang menginduksi inflamasi/peradangan dan gangguan system imunitas tubuh, misalnya golongan glukan dan endotoksin.
  5. Stimulasi sistem saraf otonom dan nosioreseptor yang mengatur kerja jantung dan saluran napas.
  6. Efek adjuvant  (tidak secara langsung mengaktifkan sistem imun) terhadap sistem  imunitas tubuh, misalnya logam golongan transisi dan DEP/diesel exhaust particulate.
  7. Efek procoagulant yang dapat menggangu sirkulasi darah dan memudahkan penyebaran polutan ke seluruh tubuh, misalnya ultrafine PM.
  8. Menurunkan sistem pertahanan tubuh normal (misal: dengan menekan fungsi alveolar makrofag pada paru).
Tabel 2. Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan jangka pendek dan jangka panjang 
Pajanan jangka pendek
-          Perawatan di rumah sakit, kunjungan ke Unit Gawat Darurat atau kunjungan rutin dokter, akibat penyakit yang terkait dengan respirasi (pernapasan) dan kardiovaskular.
-          Berkurangnya aktivitas harian akibat sakit
-          Jumlah absensi (pekerjaan ataupun sekolah)
-          Gejala akut (batuk, sesak, infeksi saluran pernapasan)
-          Perubahan fisiologis (seperti fungsi paru dan tekanan darah)
Pajanan jangka panjang
-          Kematian akibat penyakit respirasi/pernapasan dan kardiovaskular
-          Meningkatnya Insiden dan prevalensi penyakit paru kronik (asma, penyakit paru osbtruktif kronis)
-          Gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin 
-          Kanker 
Sumber: WHO dan ATS (American Thoracic Society) 2005 
4.       Polutan udara spesifik yang banyak berpengaruh terhadap kesehatan 
4.1. Particulate Matter (PM)
Penelitian epidemiologis pada manusia dan model pada hewan menunjukan PM10 (termasuk di dalamnya partikulat yang berasal dari diesel/DEP) memiliki potensi besar merusak jaringan tubuh. Data epidemiologis menunjukan peningkatan kematian serta   eksaserbasi/serangan yang membutuhkan perawatan rumah sakit tidak hanya pada penderita penyakit paru (asma, penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia), namun juga pada pasien dengan penyakit kardiovaskular/jantung dan diabetes. Anak-anak dan orang tua sangat rentan terhadap pengaruh partikulat/polutan ini, sehingga pada daerah dengan kepadatan lalu lintas/polusi udara yang tinggi biasanya morbiditas penyakit pernapasan (pada anak dan lanjut usia) dan penyakit jantung/kardiovaskular (pada lansia) meningkat signifikan. Penelitian lanjutan pada hewan  menunjukan bahwa PM dapat memicu inflamasi paru dan sistemik serta  menimbulkan kerusakan pada endotel pembuluh darah (vascular endothelial dysfunction) yang memicu proses atheroskelosis dan infark miokard/serangan jantung koroner. Pajanan lebih besar dalam jangka panjang juga dapat memicu terbentuknya kanker (paru ataupun leukemia) dan kematian pada janin. Penelitian terbaru dengan follow up hampir 11 tahun menunjukan bahwa pajanan polutan (termasuk PM10) juga dapat mengurangi fungsi paru bahkan pada populasi normal di mana belum terjadi gejala pernapasan yang mengganggu aktivitas. 
4.2. Ozon
Ozon merupakan oksidan fotokimia penting dalam trofosfer. Terbentuk akibat reaksi fotokimia dengan bantuan polutan lain seperti NOx, dan Volatile organic compounds. Pajanan jangka pendek/akut dapat menginduksi inflamasi/peradangan pada paru dan menggangu fungsi pertahanan paru dan kardiovaskular. Pajanan jangka panjang dapat menginduksi terjadinya asma, bahkan fibrosis paru. Penelitian epidemiologis pada manusia menunjukan pajanan ozon yang tinggi dapat meningkatkan jumlah eksaserbasi/serangan asma. 
4.3. NOx dan SOx
NOx dan SOx merupakan co-pollutants yang juga cukup penting. Terbentuk salah satunya dari pembakaran yang kurang sempurna bahan bakar fosil. Penelitian epidemologi menunjukan pajanan NO2,SO2 dan CO meningkatkan kematian/mortalitas akibat penyakit kardio-pulmoner (jantung dan paru) serta meningkatkan angka perawatan rumah sakit akibat penyakit-penyakit tersebut. 
5.       Penutup 
Polusi udara dan dampaknya terhadap kesehatan merupakan masalah nyata terkait dengan urbanisasi/pembangunan.  Untuk mengurangi pengaruh polusi udara tergadap kesehatan, pengurangan sumber polutan sudah pasti harus merupakan target utama jangka panjang baik dengan pemanfaatan teknologi maupun regulasi pemerintah.  Namun demikian, untuk  jangka pendek,  mengurangi pajanan individual merupakan salah satu cara yang cost-effective. Pengurangan pajanan secara makro dapat dilakukan misalnya dengan pemberlakuan  zona khusus kendaraan bermotor ataupun penentuan lokalisasi industri. Secara mikro misalnya dengan memperbaiki ventilasi/sirkulasi udara di tempat tinggal/kerja ataupun memberikan pendidikan/informasi bagi populasi yang rentan agar mengurangi pajanan tersebut serta meningkatkan daya tahan tubuh. 
Polusi Udara dan Implikasinya terhadap Kesehatan 
Oleh Sarono http://www.sinarharapan.co.id/berita/0208/03/opi01.html

Alam yang indah adalah impian setiap insan. Lingkungan yang bersih adalah dambaan setiap manusia.
Namun kenyataannya, manusia jualah yang melakukan kerusakan di muka bumi ini. Alam dan lingkungan padahal merupakan tempat berbagai organisme hidup beserta segala keadaan dan kondisinya. Dengan demikian, kondisi lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan kesehatan.
Banyak yang sengaja bahkan mengorbankan lingkungan demi beberapa lembar uang. Saat kerusakan lingkungan mengancam kehidupan dan kesehatan mereka, uang padahal bukanlah segala-galanya. Uang banyak tidak dapat dijadikan jaminan akan keselamatan lingkungan tanpa adanya kesadaran dan kemauan dari manusia itu sendiri untuk menjaga lingkungannya sehingga mereka dapat hidup lebih layak.
Pencemaran lingkungan, kerusakan lapisan ozon, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, adalah contoh dari akibat kerusakan lingkungan yang terjadi. Dampaknya bahkan tidak berhenti sampai di sini, kerugian material dan moral pun tak dapat dihitung, misalnya terjadinya bencana banjir, akan berdampak bagi penyebaran berbagai macam penyakit seperti diare atau gatal-gatal.
Akibat serangan berbagai penyakit itu, maka program peningkatan kualitas kehidupan yang mandiri pun terganggu. Budaya hidup bersih akhirnya hanya sebatas "slogan" belaka. Hidup bersih padahal merupakan prasyarat untuk terciptanya hidup sehat.
Akhirnya, karena hal ini tidak disadari oleh manusia itu sendiri, kesejahteraan kehidupan manusia tidak akan tercapai. Kesehatan lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap manusia, keseimbangan ekologi, dan sumber daya alam.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa kesehatan lingkungan meyangkut 17 faktor, antara lain, air, barang bekas/sampah, makanan dan minuman, perumahan, dan pencemaran lingkungan. Dengan demikian, maka lingkungan akhirnya tak lagi menjadi "sahabat" bagi manusia. Masyarakat jadi terbiasa dengan hidup yang tak bersih.
Di Jakarta misalnya, dari 300 ton sampah yang mengaliri tiga belas sungainya, 67 persen adalah sampah keluarga. Artinya, masyarakat cenderung tidak peduli dan seenaknya saja membuang sampah-sampah ke sungai. Air yang telah menghitam dan berbau akibat berbagai sampah dan limbah (pabrik dan rumah tangga) tersebut padahal masih dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat Ibu Kota untuk keperluan rumah tangga seperti mencuci, mandi, air minum, dan lain sebagainya.

Polusi Udara
Bagi kota-kota besar di Indonesia, udara yang kotor dan pengap merupakan pemandangan sehari-hari. Cerobong pabrik dan cerobong knalpot kendaraan tanpa henti membuang asapnya ke udara.
Menurut World Bank, 70 persen sumber pencemar berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tinggi menyebabkan pencemaran udara di Indonesia menjadi sangat serius. Saat ini terdapat lebih dari 20 juta unit kendaraan bermotor di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 4 juta unit diantaranya berseliweran di jalanan Jakarta.
Kajian JICA (Japan International Cooperation Agency) tahun 1996 menyebutkan bahwa penyumbang zat-zat pencemar terbesar di Jakarta adalah kendaraan pribadi. Zat-zat pencemar tersebut diantaranya karbon monoksida (CO) sebesar 58 persen, nitrogen oksida (Nox) 54 persen, hidrokarbon 88,8 persen, dan timbel (Pb) 90 persen. Zat pencemar lain adalah sulfur oksida (Sox) yang banyak disumbangkan oleh kendaraan bus, truk, dan kendaraan berbahan bakar solar lainnya, sekitar 35 persen.
Sekjen Sustran Network for Asia and the Pacific (Jaringan Kegiatan Transportasi Berkelanjutan untuk Asia dan Pasifik) Bambang Susantono mengatakan gaya hidup masyarakat perkotaan dan perilaku ugal-ugalan dalam berkendaraan ikut mempengaruhi tingginya tingkat pencemaran udara di Jakarta. Gaya hidup boros itu terlihat dari kebiasaan menggunakan satu mobil untuk tiap anggota keluarga. Hal itu menyebabkan pemborosan pemakaian BBM, dan akhirnya berdampak pada pencemaran udara.
Kondisi demikian diperparah tidak seimbangnya antara pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dengan pertambahan jalan raya. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di kota-kota besar Indonesia berkisar antara 8-12 persen per tahun, sedang pertambahan jalan raya hanya 3-5 persen saja. Keadaan ini mengakibatkan kemacetan di jalan-jalan yang akhirnya polusi udara juga meningkat, apalagi emisi gas buang kendaraan bermotor yang langsam dan merayap (macet) berbeda 12 kalinya dibanding saat kendaraan berjalan normal atau lancar.
Berbagai zat pencemar yang beterbangan di udara tersebut akan sangat merugikan dan berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungannya. Akibat ini secara nyata sudah dirasakan oleh masyarakat, sebagai contoh, efek toksik pada timbel dapat mengganggu fungsi ginjal, saluran pencernakan, dan sistem saraf.
Kandungan timbel juga menurunkan tingkat kecerdasan atau IQ terutama pada anak-anak, menurunkan fertilitas dan kualitas spermatozoa. Gangguan kesehatan akibat zat-zat pencemar seperti gangguan pada syaraf dan ketidak-nyamanan kini menghantui masyarakat kita, apalagi WHO memperkirakan 800.000 kematian pertahun di dunia diakibatkan polusi udara.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mabes Polri dan FKUI pada tahun 1995 juga mengungkapkan besarnya pengaruh timbel (Pb) dari emisi kendaraan bermotor terhadap kualitas air mani polisi lalu lintas di Jakarta. Penelitian itu melibatkan 232 orang polisi lalu lintas yang bekerja di tepi jalan raya dibandingkan dengan 58 orang polisi lalu lintas yang bekerja di kantor.
Dari pengukuran timbel udara lingkungan kerja mempunyai nilai rata-rata 77,5 ug Pb/m3 udara. Nilai ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan nilai baku lingkungan (60 ug Pb/m3 udara).
Hasil pengukuran timbel urine secara keseluruhan 266,5 ug Pb/I urine, juga lebih tinggi dari yang diperbolehkan, yakni 65 ug Pb/I urine. Temuan kualitas air mani pada penelitian itu, jika dibandingkan standar baku WHO (standar normal), derajat keasaman (pH) semen (air mani) mempunyai nilai lebih besar dari standar normal (8,4 vs 7,2-7,8).
Penelitian ini juga menemukan bahwa kadar timbel di udara atmosfer yang padat lalu lintas di jalan raya mempunyai nilai rata-rata 78,9 ug Pb/m3, lebih tinggi dibandingkan dengan kadar timbel udara di kantor Polda Metro Jaya (69,1 ug Pb/m3), namun keduanya masih lebih tinggi dari kualitas standar udara WHO (30-60 ug Pb/m3).
Penelitian yang dilakukan pada tahun 1998 di Surabaya oleh UI dan GTZ juga tidak kalah mengkhawatirkan bahkan lebih mencengangkan. Dari penelitian yang melibatkan 94 ibu hamil itu, diketahui kadar timbel dalam darah sebesar 42 Ug/dL yang jauh melebihi ambang batas yaitu 20 Ug/dL. Demikian juga analisis yang dilakukan terhadap air susu mereka, diperoleh hasil kadar timbel sebesar 54 Ug/dL, atau lebih dari 10 kali lipat ambang batas yang diizinkan, yakni 0,5 Ug/Dl.
Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Brigham Young dan Universitas New York seperti dimuat pada jurnal The American Medical Association, dengan melibatkan data kesehatan 500.000 penduduk urban sejak tahun 1982-1998, mengungkapkan bahwa mereka yang terpapar polusi udara jangka panjang - terutama jelaga yang dikeluarkan oleh industri dan knalpot kendaraan - meningkatkan risiko terkena kanker paru. Paparan polusi udara ini sama bahayanya dengan hidup bersama seorang perokok dan terkena asapnya setiap hari.
Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi. Hampir 90% pengidap kanker paru tidak bisa diselamatkan, karena jika sudah akut, dengan mudah kanker akan menyebar ke jaringan tubuh sekelilingnya seperti hati, tulang belakang, dan otak melalui pembuluh darah. Kanker paru telah membunuh lebih dari sejuta orang setiap tahunnya, dan saat ini menjadi pembunuh utama.
Anak-anak merupakan kelompok sensitif terhadap timbel karena mereka lebih peka dan lima kali lebih mudah menyerap timbel daripada orang dewasa. Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, dalam sebuah seminar tentang "Mewaspadai Efek Kesehatan BBM dari Bensin Bertimbel" bulan Februari yang lalu, sekitar 42 sampai 48 persen anak di Jakarta menghirup timbel yang bersumber dari asap pencemaran udara. Timbel padahal bersifat persistent dalam tubuh manusia, dan memiliki sifat neurotoksik dan karsinogenik sehingga bisa mengganggu sistem saraf pusat, sistem fungsi ginjal, dan pertumbuhan tulang.
Penggunaan timbel secara luas pada kendaraan bermotor mengandung risiko dan dampak bagi kesehatan, khususnya bagi kelompok penduduk yang terdiri dari anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta kaum pekerja yang terekspos timbel. Timbel sebagai bahan yang tidak dapat terurai di alam tidak akan hilang, dan akan terakumulasi di tempat-tempat deposit.
Secara biologis, zat itu tidak memberi keuntungan bagi tubuh manusia, terutama kelompok penduduk di atas. Lebih jauh, kelompok yang menghirup pencemar udara yang mengandung bahan logam atau timbel akan menimbulkan penyakit perut, muntah, atau diare akut. Gejala keracuan akut kronis bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan, konstipasi, lelah, sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang, dan gangguan penglihatan.

Bebas Timbel = Bebas Polusi Udara?
Dambaan masyarakat untuk hidup lebih aman di kota-kota besar khususnya Jakarta tanpa menghirup polusi udara yang mengandung timbel sempat menjadi kenyataan ketika Sonny Keraf, Menteri Negara Lingkungan Hidup kala itu, mencanangkan Jakarta bebas timbel pada 1 Juli 2001 yang lalu. Kendati demikian, pencanangan Jakarta bebas timbel bukan berarti Jakarta bebas polusi udara. Karena timbel hanyalah salah satu gas pembuangan kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara yang paing berbahaya, sedangkan sumber polusi lain yang menyelimuti udara Jakarta masih banyak.
Maka wajar bila hingga kini kota Jakarta akan tetap tertutup kabut asap sisa pembuangan kendaraan bermotor, terutama angkutan umum/bus kota. Hal ini dikarenakan emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia dengan komposisi kandungannya tergantung dari kondisi mengemudi, jenis mesin, alat pengendali emisi bahan bakar, suhu operasi, serta berbagai faktor lain yang semuanya membuat pola emisi menjadi rumit.
Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam uji kelayakan kendaraan bermotor juga berdampak pada terabaikannya aspek keselamatan dan kebersihan lingkungan. Uji kelayakan itu wajib agar standardisasi kelayakan bisa dicapai.
Semua ini demi keselamatan para pengguna kendaraan bermotor dan mengurai dampak lingkungan seperti emisi karbon dan polusi udara. Namun karena hingga kini belum ada sanksi yang berat bagi kendaraan bermotor yang tidak laik uji, maka masyarakat pengguna kendaraan bermotor cenderung mengabaikan uji kelaikan ini.
Seharusnya bagi kendaraan yang tidak laik uji mendapatkan sanksi pencabutan izin operasinya. Di Malaysia, sanksi demikian diterapkan dengan sangat ketat, sehingga upaya hidup sehat dan aman akhirya menjadi kenyataan.
Sesuai dengan SK Menperindag No. 214/MPP/Kep/7/2001 tentang Uji Publik Kendaraan Bermotor Roda Empat dan Roda Dua, uji kelayakan wajib diikuti oleh semua kendaraan bermotor. Dalam uji kelaikan tersebut, ada beberapa tes yang dilakukan terhadap kendaraan bermotor, antara lain tes uji pembebanan, jatuh lampu, emisi karbon, kebisingan, akselerasi (percepatan), pengereman, kecepatan maksimum, jalan tergenang, ban, ketahanan, BBM, dan minyak pelumas. Jika semua kendaraan bermotor patuh terhadap uji kelaikan tersebut, masyarakat akan merasa aman tidak saja dalam berkendaraan, tetapi juga kendaraan itu benar-benar bersahabat dengan lingkungan.
Dalam upaya pengendalian terhadap emisi gas-gas pencemar di atas, Indonesia harus segera meratifikasi aturan baru mengenai ambang batas kandungan emisi gas buang kendaraan bermotor. Langkah ini diperlukan untuk mendorong percepatan penghapusan bensin bertimbel.
Saat ini, Indonesia masih menggunakan aturan ambang batas emisi yang dibuat tahun 1993. Ini tentunya sangat bertolak belakang dengan negara-negara lain yang sudah terlebih dulu menerapkan aturan baru seperti Euro 1 dan Euro 2.

Terlambatnya pemerintah menyesuaikan aturan ambang batas sebagaimana negara-negara lain, konsekuensi yang harus ditanggung pemerintah adalah sulitnya menindak kendaraan yang tidak lulus uji emisi. Selain itu, pemerintah harus lebih mendorong masyarakat untuk memanfaatkan energi alternatif yang ramah lingkungan seperti BBG dan LPG . Pemerintah juga harus meningkatkan mutu bahan bakar yang dipasarkan di Indonesia.
Peningkatan mutu bahan bakar minyak (BBM) terutama bensin dan solar memang mendesak untuk dilakukan. Bensin misalnya, kendati di Jakarta sudah bebas timbel, secara keseluruhan masih mengandung olefin dalam jumlah jauh lebih tinggi dari yang direkomendasikan dan juga solar yang masih mengandung belerang (sulfur).
Menurut rekomendasi World Wide Fuel Charter (WWFC), kadar olefin dalam bensin maksimal 18% dan sulfur dalam solar maksimal 0,005%. Sedangkan di Indonesia, kandungan olefin dalam bensin masih mencapai 35% dan belerang 0,5%. Tingginya kandungan olefin ini mengakibatkan munculnya kerak pada sistem penyaluran bahan bakar dan ruang bakar kendaraan. Akibatnya, pembakaran dalam mesin berlangsung tidak sempurna, sehingga meningkatkan pencemaran senyawa karbon monoksida, nitrogen oksida, dan senyawa hidrokarbon lainnya.
Dengan demikian, hilangnya kandungan timbel dalam bensin tidak otomatis menghilangkan pencemaran udara di Jakarta. Berbagai senyawa pencemar berbahaya setiap saat mengintai masyarakat.
Untuk itu perlu segera adanya langkah antisipatif dari berbagai kalangan sebelum seluruh masyarakat kita mengidap penyakit yang akan mengakibatkan berbagai macam dampak negatif. Penerapan bensin tanpa timbel, ambang batas emisi kendaraan bermotor, uji kelaikan kendaraan bermotor, pemasyarakatan bahan bakar ramah lingkungan, dan perbaikan mutu bahan bakar kendaraan bermotor harus segera direalisasikan.
Ini merupakan tantangan khususnya pemerintah dalam upaya menjamin kehidupan yang aman dan nyaman bagi masyarakatnya. Sedangkan bagi masyarakat, hindari pola hidup boros dengan membiasakan diri untuk memanfaatkan angkutan umum dalam bepergian sehingga mengurangi kepadatan lalu lintas agar beban kota dalam menampung polusi dari asap kendaraan dapat berkurang. Dengan membiasakan untuk selalu membudayakan hidup bersih, berarti ikut memberikan udara yang bersih bagi anak-anak kita dan mengurangi risiko bagi semua lapisan masyarakat akan dampak polusi udara bagi kesehatan.
Sejumlah ikan ditemui memiliki benjolan semacam tumor dan mengandung cairan kental berwarna hitam dan lendir berwarna kuning keemasan. Fenomena serupa ditemukan pula pada sejumlah penduduk Buyat, dimana mereka memiliki benjol-benjol di leher, payudara, betis, pergelangan, pantat dan kepala.
 
Dari studi yang pernah dilakukan di Amerika Serikat oleh The National Institute of Occupational Safety and Health pada tahun 1997 terungkap bahwa satu dari empat karyawan yang bekerja di lingkungan industri tersedia pada bahan beracun dan kanker. Lebih dari 20.000.000 karyawan yang bekerja di lingkungan industri setiap harinya menggarap bahan-bahan yang diketahui mempunyai resiko untuk menimbulkan kanker, penyakit paru, hipertensi dan gangguan metabolisme lain. Pencemaran udara yang disebabkan industri dapat menimbulkan asphyxia dimana darah kekurangan oksigen dan tidak mampu melepas CO2disebabkan gas beracun besar konsentrasinya dedalam atmosfirseperti CO2, H2S, CO, NH3, dan CH4. Kekurangan ini bersifat akurat dan keracunan bersifat sistemik penyebab adalah timah hitam, Cadmium,Flour dan insektisida .( http://bencana.net)
Dampak negatif akibat pencemaran udara itu  masih bisa dicegah , yaitu dengan menjaga sistem daya tahan tubuh , yaitu kulit , sel imun dan antibodi .
Asupan nutrisi lengkap ,olah raga yang teratur dan rekreasi terbukti dapat memperlancar sistem metabolisme dan meningkatkan sistem daya tahan tubuh .
Berikut ini adalah vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh :
      . Vitamin A , B6, B12 , C,D,E, asam folat , tembaga, zat besi , selenium , dan zinc membantu  
         perkembangan dan regenerasi   sel imun .
      . Vitamin A ,C, E dan  zinc   meransang  perbaikan  jaringan  kulit  yang rusak .
      . Vitamin A . B6 ,B12 , C,D,E , Asam folat , tembaga ,selenium dan zinc meransang antibodi menjadi lebih tanggap dan reaktif .( http://id.shvoong.com)


Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© www.suhendri22.blogspot.com
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top