Warung Online

28 November, 2008

Tugas IPA Kelompok 5 AK 1



DAMPAK PENCEMARAN AIR TERHADAP LINGKUNGAN

 

 

Pencemaran air

Air dikatakan tercemar bilamana terjadi perubahan komposisi atau kondisi yang diakibatkan oleh adanya kegiatan atau hasil kegiatan manusia sehingga secara langsung maupun tidak langsung air menjadi tidak alyak atau kurang layak untuk semua fungsi atau tujuan pemanfaatan sebagaimana kewajaran air yang dalam keadaan alami.

Indikator air telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui :

v       Adanya perubahan suhu air

v       Perubahan PH

v       Perubahan warna, bau dan rasa

v       Timbulnya endapan, koloidal, bahan pelarut

v       Adanya mikroorganisme

v        Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan

 

 

Dampak Pencemaran Air

Air yang telah tercemar dapat mengakibatkan kerugian terhadap manusia juga ekosistem yang ada didalam air. Kerugian yang disebabkan oleh pencemaran air dapat berupa :

1.      Air tidak dapat digunakan lagi untuk keperluan rumah tangga, hal ini diakibatkan oleh air sudah tercemar sehingga tidak bisa digunakan lagi apalagi air ini banyak manfaatnya seperti untuk diminum, mandi, memasak mencuci dan lain – lain

2.      Air tidak dapat digunakan untuk keperluan industri, contoh air yang terkena minyak tidak dapat digunakan lagi sebagai solven atau sebagai air dalam proses industri kimia

3.      Air tidak dapat digunakan untuk keperluan pertanian, seperti untuk irigasi, pengairan sawah dan kolam perikanan. Apabila air sudah tercemar oleh senyawaan organik dapat mengakibatkan perubahan drastis pada PH air. Air yang bersifat  terlalu asam atau basa akan mematikan tanaman dan hewan air, selain itu air yang tercemar oleh limbah B3 menyebabkan banyak ikan mati dan pada manusia timbul penyakit kulit ( rasa gatal ).

 

Merebaknya hepatitis A di DI Yogyakarta, terutama di kalangan mahasiswa, merupakan peringatan keras bagi masyarakat agar lebih teliti soal kebersihan. Ini disebabkan virus hepatitis A cepat menular pada orang-orang yang bersinggungan dengan lingkungan yang tidak bersih. Makanan dan minuman yang tidak dicuci dengan air bersih dan tidak diolah secara baik, apabila terkontaminasi virus hepatitis A dapat menjadi media penularan penyakit itu. Air yang tercemar juga dapat menjadi media berkembangnya virus tersebut.

Pentingnya kebersihan sumber air menjamin kesehatan penggunanya. Sebagian besar masyarakat DIY masih menjadikan sumur sebagai sumber air dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari 70 persen dari 438 desa/kelurahan di DIY masih memanfaatkan air sumur untuk minum dan memasak (2006). Pengguna sumur gali dan pompa di Kota Yogyakarta saja-mengacu data Dinas Kesehatan dan PDAM Tirtamarta Kota Yogyakarta-mencapai 35.202 kepala keluarga. Sisanya memanfaatkan PAM atau air mineral, pompa tangan atau listrik, mata air, dan air hujan sebagai sumber air

Sayangnya, tidak semua desa/kelurahan di DIY kondisi sumber airnya baik. Padahal, kebersihan air menjadi salah satu penentu kesehatan penggunanya. Mengacu pada pendataan Badan Pusat Statistik DIY, pascagempa 27 Mei 2006 terdapat 41 desa/kelurahan yang mengalami gangguan pencemaran air. Beberapa kasus pencemaran air, menurut catatan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DIY, antara lain karena limbah pabrik, restoran, dan peternakan sapi.

Meskipun jumlah desa/kelurahan di DIY yang tercemar airnya lebih sedikit dibandingkan yang mengalami pencemaran udara atau suara, tetapi lebih mengkhawatirkan dampaknya. Pasalnya, air yang tercemar dapat menjadi pengantar berkembangnya berbagai penyakit, antara lain diare, tifus, dan hepatitis A.

Beban pencemaran air di Kabupaten Bantul paling besar diantara seluruh kabupaten /kota di propinsi DIY. Sumber pencemar sebagian besar berasal dari limbah domestik (rumah tangga) dan limbah industri.

 

Berdasarkan data dari WHO (1982) bahwa setiap manusia menghasilkan limbah sebesar 7,3 m3/orang/tahun sedangkan jumlah penduduk di Kabupaten Bantul tahun 2007 sebanyak 826.125 jiwa sehingga volume limbah yang akan dihasilkan sebanyak ± 6.030.712,5 m3/tahun. Selain limbah yang dihasilkan oleh penduduk di Kabupaten Bantul sendiri, daerah Kabupaten Bantul yang merupakan daerah hilir, juga menerima "pasokan" limbah baik dari Kota Yogyakarta maupun dari Kabupaten Sleman yang berada di daerah hulu.

Beberapa hal yang menyebabkan tingginya potensi pencemaran air, diantaranya:

1.      Budaya masyarakat yang masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan sehingga semua limbah baik sampah maupun limbah cair domestik dan industri dibuang ke sungai.

2.      Sebagian besar masyarakat masih menggunakan sistem resapan untuk mengolah limbah domestik.

3.      Masih lemahnya penegakan hukum bagi pelanggar pencemaran air.

Perkembangan industri khususnya industri rumah tangga di bidang pangan, merupakan kegiatan yang menghasilkan limbah cukup besar baik limbah cair maupun padat. Baru sebagian kecil industri yang mengolah limbahnya karena keterbatasan dana serta kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan limbah. Dengan demikian akan semakin memperparah tingkat pencemaran air di Kabupaten Bantul.

Pencemaran air Sungai (air permukaan)

 

Kualitas air sungai-sungai yang ada di wilayah Kabupaten Bantul termasuk Golongan B, dengan peruntukan sebagai air untuk pertanian, perikanan dan air untuk industri. Adanya pencemaran di beberapa ruas pada beberapa sungai menyebabkan penurunan kualitas air sehingga tidak sesuai dengan peruntukannya. Sumber-sumber pencemar terhadap air sungai dan air laut dapat berasal dari ;

Ø      Sumber domestik, yaitu rumah tangga

Ø      Sumber non domestik, yaitu dari kegiatan masyarakat di sektor industri, pertanian, peternakan, kesehatan, perdagangan, dan pariwisata.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada th 2006 dan th 2007, pada lima sungai di Kabupaten Bantul diindikasikan telah mengalami pencemaran yang ditandai dengan adanya beberapa parameter baik kimia (BOD, COD, Fosfat, dan detergen) yang melampaui ambang batas Baku Mutu yang dipersyaratkan. Air limbah dari sumber domestik meskipun jumlahnya besar tetapi konsentrasi bahan pencemar yang terkandung didalamnya relatif lebih kecil dan lebih mudah ternetralkan dibandingkan limbah dari sektor industri.

 

Pencemaran air tanah

Kualitas air sumur dipengaruhi oleh porositas tanah di sekitarnya dan limbah yang dibuang dan meresap ke dalam tanah. Pemantauan air sumur yang dilakukan oleh Bapedalda Pripinsi DIY sesudah bencana gempa bumi 27 Mei 2006 di beberapa Wilayah Kecamatan di Kabupaten Bantul, menunjukkan bahwa sebagian besar sumur diindikasikan telah tercemar oleh Bakteri Coli.

Pencemaran oleh Bakteri Coli kemungkinan disebabkan oleh limbah rumah tangga terutama dari limbah kakus dan pembuangan kotoran ternak dari kegiatan peternakan. Pencemaran air pada umunya terjadi disebabkan oleh siatem pembuangan limbah rumah tangga dan pembuangan limbah industri yang tidak baik. Sebagian besar limbah rumah tangga tidak dikelola dan hanya dibuang di pekarangan, saluran air hujan, saluran irigasi atau sungai. Sebagai contoh; pencemaran air sumur yang disebabkan oleh pembuangan limbah domestik di Kecamatan Pleret seperti Gambar 18. Beberapa industri yang menghasilkan limbah cair belum melakukan pengolahan limbah secara benar. Dikarenakan jarak yang jauh dari sungai maka limbah diresapkan ke dalam tanah.

Berdasarkan pemantauan Bapedal yang dilaksanakan pada tahun 2007 terhadap mata air yang ada di wilayah Kabupaten Bantul menunjukkan bahwa sebagian besar kualitas air mata air diindikasikan telah mengalami pencemaran terutama oleh Bakteri Coli dan beberapa parameter kimia telah mendekati ambang batas baku mutu.
Pencemaran mata air kemungkinan disebabkan oleh kegiatan manusia di mata air tersebut, seperti mandi, mencuci, membuang kotoran (BAB), membuang sampah dan limbah ke mata air dan memandikan ternak. Kegiatan peternakan dan industri yang membuang limbah ke mata air juga mempunyai andil besar terhadap pencemaran yang terjadi.

Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meminimalisir pencemaran air oleh Dinas/Instansi (Dinas Kesehatan, Dinas Pengairan dan Dinas Perindakop) seperti pembuatan IPAL di lokasi padat penduduk, perluasan jaringan menuju IPAL komunal Sewon, Diklat dan sebagainya. Namun demikian pencemaran air tanah masih banyak terjadi karena semakin meningkatnya kegiatan/aktifitas manusia yang tidak diikuti oleh kesadaran akan pelestarian lingkungan.

Pengaruh air terhadap kesehatan dapat menyebabkan penyakit menular dan tidak menular. Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit penyakit umpama penyakit malaria karena udara jelek dan tinggal disekitar rawa-rawa. Orang beranggapan bahwa penyakit malaria terjadi karena tinggal pada rawa-rawa padahal nyamuk yang bersarang di rawa menyebabkan penyakit malaria. Dipandang dari segi lingkungan kesehatan, penyakit terjadi karena interaksi antara manusia dan lingkungan.

Penyebab dan Dampak Pencemaran Air

Apa sajakah sumber-sumber pencemaran air? Sumber pencemaran air yang paling umum adalah :

Selain itu, yang terdapat pada daerah tertentu yaitu :

Penyebab dan Dampak Pencemaran Air Limbah Pemukiman

Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan atau dibusukkan oleh bakteri. Contohnya sisa-sisa sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan. Sedangkan sampah anorganik sepertikertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam, karet, dan kulit. Sampah-sampah ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable). Sampah organik yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut, karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya. Apabila sampah anorganik yang dibuang ke sungai, cahaya matahari dapat terhalang dan menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan oksigen. Tentunya anda pernah melihat permukaan air sungai atau danau yang ditutupi buih deterjen. Deterjen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari air. Pada saat ini hampir setiap rumah tangga menggunakan deterjen, padahal limbah deterjen sangat sukar diuraikan oleh bakteri.

Sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.

Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan.

Penyebab dan Dampak Pencemaran Air Limbah Pertanian

Pupuk dan pestisida biasa digunakan para petani untuk merawat tanamannya. Namun pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari air. Limbah pupuk mengandung fosfat yang dapat merangsang pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan gulma air yang tidak terkendali ini menimbulkan dampak seperti yang diakibatkan pencemaran oleh deterjen.

Limbah pestisida mempunyai aktifitas dalam jangka waktu yang lama dan ketika terbawa aliran air keluar dari daerah pertanian, dapat mematikan hewan yang bukan sasaran seperti ikan, udang dan hewan air lainnya. Pestisida mempunyai sifat relatif tidak larut dalam air, tetapi mudah larut dan cenderung konsentrasinya meningkat dalam lemak dan sel-sel tubuh mahluk hidup disebut Biological Amplification, sehingga apabila masuk dalam rantai makanan konsentrasinya makin tinggi dan yang tertinggi adalah pada konsumen puncak. Contohnya ketika di dalam tubuh ikan kadarnya 6 ppm, di dalam tubuh burung pemakan ikan kadarnya naik menjadi 100 ppm dan akan meningkat terus sampai konsumen puncak.

Penyebab dan Dampak Pencemaran Air> Limbah Industri

Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab terjadinya pencemaran air. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3, yaitu bahan berbahaya dan beracun. Menurut PP 18 tahun 99 pasal 1, limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya. Karakteristik limbah B3 adalah korosif/ menyebabkan karat, mudah terbakar dan meledak, bersifat toksik/ beracun dan menyebabkan infeksi/ penyakit. Limbah industri yang berbahaya antara lain yang mengandung logam dan cairan asam. Misalnya limbah yang dihasilkan industri pelapisan logam, yang mengandung tembaga dan nikel serta cairan asam sianida, asam borat, asam kromat, asam nitrat dan asam fosfat. Limbah ini bersifat korosif, dapat mematikan tumbuhan dan hewan air. Pada manusia menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, mengganggu pernafasan dan menyebabkan kanker.

Logam yang paling berbahaya dari limbah industri adalah merkuri atau yang dikenal juga sebagai air raksa (Hg) atau air perak. Limbah yang mengandung merkurei selain berasal dari industri logam juga berasal dari industri kosmetik, batu baterai, plastik dan sebagainya. Di Jepang antara tahun 1953- 1960, lebih dari 100 orang meninggal atau cacat karena mengkonsumsi ikan yang berasal dari Teluk Minamata. Teluk ini tercemar merkuri yang bearasal dari sebuah pabrik plastik. Senyawa merkuri yang terlarut dalam air masuk melalui rantai makanan, yaitu mula-mula masuk ke dalam tubuh mikroorganisme yang kemudian dimakan yang dikonsumsi manusia. Bila merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink Disease/ acrodynia, alergi kulit dan kawasaki disease/ mucocutaneous lymph node syndrome.

Penyebab dan Dampak Pencemaran Air Limbah Pertambangan

Limbah pertambangan seperti batubara biasanya tercemar asam sulfat dan senyawa besi, yang dapat mengalir ke luar daerah pertambangan. Air yang mengandung kedua senyawa ini dapat berubah menjadi asam. Bila air yang bersifat asam ini melewati daerah batuan karang/ kapur akan melarutkan senyawa Ca dan Mg dari batuan tersebut. Selanjutnya senyawa Ca dan Mg yang larut terbawa air akan memberi efek terjadinya AIR SADAH, yang tidak bisa digunakan untuk mencuci karena sabun tidak bisa berbuih. Bila dipaksakan akan memboroskan sabun, karena sabun tidak akan berbuih sebelum semua ion Ca dan Mg mengendap. Limbah pertambangan yang bersifat asam bisa menyebabkan korosi dan melarutkan logam-logam sehingga air yang dicemari bersifat racun dan dapat memusnahkan kehidupan akuatik.

Selain pertambangan batubara, pertambangan lain yang menghasilkan limbah berbahaya adalah pertambangan emas. Pertambangan emas menghasilkan limbah yang mengandung merkuri, yang banyak digunakan penambang emas tradisional atau penambang emas tanpa izin, untuk memproses bijih emas. Para penambang ini umumnya kurang mempedulikan dampak limbah yang mengandung merkuri karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki.

Biasanya mereka membuang dan mengalirkan limbah bekas proses pengolahan pengolahan ke selokan, parit, kolam atau sungai. Merkuri tersebut selanjutnya berubah menjadi metil merkuri karena proses alamiah. Bila senyawa metil merkuri masuk ke dalam tubuh manusiamelalui media air, akan menyebabkan keracunan seperti yang dialami para korban Tragedi Minamata.

Pencemaran Air

 Sumber Pencemaran Air

Banyak penyebab pencemaran air tetapi secara umum dapat dikategorikan sebagai sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA (tempat Pembuangan Akhir Sampah), dan sebagainya. Sumber tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah, atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air tanah mengandung mengandung sisa dari aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfer juga berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan asam. 

Pencemar

Pencemar air dapat diklasifikasikan sebagai organik, anorganik, radioaktif, dan asam/basa. Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air atau air tanah. Pestisida, deterjen, PCBs, dan PCPs (polychlorinated phenols), adalah salah satu contohnya. Pestisida dgunakan di pertanian, kehutanan dan rumah tangga. PCB, walaupun telah jarang digunakan di alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai insulator, PCP dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas sebagai zat pembersih di rumah tangga. 

Langkah Penyelesaian

Dalam keseharian kita, kita dapat mengurangi pencemaran air, dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari (minimize), mendaur ulang (recycle), mendaur pakai (reuse). 

Kita pun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi "masyarakat kimia", yang menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya. 

Menjadi konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana. Sebagai contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi, apakah nantinya akan menjadi sumber pencemar yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun, atau degradable (dapat didegradasi) alam ? Apakah barang yang kita konsumsi nantinya dapat meracuni manusia, hewan, dan tumbuhan, aman bagi mahluk hidup dan lingkungan ?  

Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar. Walaupun demikian, langkah pencegahan tentunya lebih efektif dan bijaksana.

 


Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© www.suhendri22.blogspot.com
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top