Warung Online

28 November, 2008

tugas IPA kelompok IV XI AK 3

Panta Rhei Filsafat UGM

kumpulan artikel yang bertema ekologi, lingkungan dan sosial

Minamata

leave a comment »

Oleh: Tri Wahyuni

Masih ingatkah dengan isu penyakit minamata yang menjangkit warga teluk buyat?

Penyakit minamata pertama ditemukan di Kumamoto tahun 1956, dan tahun 1968 Jepang menyatakan penyakit ini disebabkan pencemaran pabrik Chisso Co. Ltd. Penyakit Minamata terjadi akibat banyak mengkonsumsi ikan dan kerang dari Teluk Minamata yang tercemar Methyl-Hg atau disebut metil merkuri (methylmercury).

Tahun 1908 PT Chisso berdiri dan tahun 1932 mulai memproduksi berbagai jenis produk dari pewarna kuku sampai peledak. Dengan dukungan militer, industri ini merajai industri kimia, dan dengan leluasa membuang limbahnya ke teluk Minamata. Diperkirakan 200-600 ton Hg dibuang selama tahun 1932-1968. Selain merkuri limbah PT Chisso juga berupa mangan. Thalium, dan Selenium.

Bencana mulai nampak tahun 1949 ketika karang makin punah, sehingga ikan yang menjadi andalan nelayan Minamata mulai menurun drastis. Tahun 1953 beberapa ekor kucing yang memakan ikan dari teluk Minamata mengalami kejang, menari-nari, dan mengeluarkan air liur beberapa saat kemudian kucing ini mati.

Pada Tahun 1956, gadis berusia 5 tahun menderita gejala kerusakan otak, gangguan bicara, dan kehilangan keseimbangan, akibatnya tidak dapat berjalan. Kasus sama terjadi pada adik dan empat orang tetangganya. Penyakit ini oleh Dr. Hosokawa disebut sebagai minamata desease.

Tahun 1958 terbukti penyakit Minamata disebabkan keracunan oleh metil merkuri, dengan kucing yang kejang dan disusul kematian setelah diberi makan metil merkuri. Tahun 1960 bukti menyebutkan bahwa PT Chisso berperan besar dalam tragedi Minamata, karena ditemukan metil merkuri di ekstrak kerang dari teluk Minamata. Sedimen kerang mengandung 10-100 ppm metil merkuri, sedang di dasar kanal pembuangan pabrik mencapai 2000 ppm. Tahun 1968 pemerintah secara resmi mengakui limbah pabrik Chisso sebagai sumber penyakit Minamata.

Minamata adalah penyakit yang disebabkan keracunan metil merkuri dengan akibat gangguan syaraf pusat dan otak kecil karena logam merkuri. Penyakit Minamata tidak menular atau menurun secara genetis. Selain itu, panyakit Minamata juga tidak dapat diobati, usaha perawatan sebatas mengurangi gejala dan terapi rehabilitasi fisik.

Merkuri banyak digunakan dalam industri seperti termometer, tambal gigi, baterai, dan soda kaustik. Merkuri dapat pula bersenyawa dengan khlor, belerang, dan oksigen senyawa untuk membentuk garam merkurium yang sering digunakan dalam industri krim pemutih kulit. Ada tradisi beberapa masyarakat yang menggunakan karbon di dalam baterei untuk lantai rumahnya.

Di alam, logam merkuri dapat ditransformasikan menjadi bentuk senyawa metil merkuri. Konsentrasi merkuri di udara biasanya rendah dan jarang menjadi sumber permasalahan, berbeda ketika memasuki perairan. Pada perairan merkuri dengan mudah berikatan dengan unsur kimia khlor. Ikatan dengan ion khlor akan membentuk merkuri anorganik yang mudah masuk ke dalam plankton dan dapat berpindah ke biota laut lain, seperti plankton, karang, ikan, dan sebagainya.

Pada biota laut inilah merkuri anorganik mengalami perubahan menjadi merkuri organik (metil merkuri). selain itu kondisi asam dan kadar ozon pada perairan mendorong aktivitas bakteri mengubah merkuri menjadi metil merkuri. Sifat metil merkuri dapat terakumulasi dalam tubuh ikan, sehingga ikan mengandung metil merkuri lebih banyak lagi.

Ikan-ikan yang telah terkontaminasi menjadi ancaman kesehatan serius bagi manusia ketika rantai makanan itu menyambung ke manusia. Sekali berada dalam tubuh, metal merkuri sangat lambat tercuci. Oleh sebab itu, memakan ikan yang tercemar metil merkuri dengan dosis di bawah ambang pun, jika dilakukan dalam jangka waktu lama, akan meningkatkan jumlah merkuri di dalam tubuh.

Pada tubuh manusia metil merkuri menyebar ke seluruh jaringan terutama darah dan otak. Sekitar 90 persen ditemukan dalam darah merah dan sisanya diekskresikan melalui empedu ke tinja juga urine. Metil merkuri memasuki tubuh manusia melalui tiga cara, yaitu melalui kulit, inhalasi (pernafasan) maupun lewat makanan. Bila masuk melalui kulit akan menyebabkan reaksi alergi kulit berupa iritasi kulit. Reaksinya tidak terlalu lama, cukup mandi beberapa kali pada air yang tercemar merkuri, kulit pun akan segera mengalami iritasi.

Konsentrasi metil merkuri ditemukan pada ginjal, hati, dan otak. Selain itu juga nephritis, efek-efek saraf dan jantung. Pada keracunan akut dapat menimbulkan gangguan sistem saluran pencernaan dan pernafasan. Metil merkuri juga dapat menembus blood brain barrier dan menimbulkan kerusakan di otak.

Metil merkuri yang masuk tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat, akibatnya terjadi degenerasi sel-sel syaraf pada otak kecil, sarung selaput syaraf dan bagian otak yang mengatur penglihatan. Penderitanya mengalami kesemutan (paresthesia), gangguan bicara, hilang daya ingat, ataxia dan kelainan syaraf lainnya. Gejala-gejala dapat berkembang lebih buruk menjadi seperti kesulitan menelan, kelumpuhan, kerusakan otak, dan kematian.

Penderita kronis penyakit ini mengalami sakit kepala, sering lelah, hilang indera perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa.

***

Pada tahun 1993, menunjukkan kadar logam berat Cd di Keputih merupakan kandungan Cd dalam lumpur terbesar di dunia yakni sebesar 1,575 ppm. Kadar Hg pada lumpur Keputih 1,485 ppm dan Kenjeran sebesar 0,605 (angka ini lebih tinggi dibandingkan kadar Hg dalam lumpur diperairan Southampton, Inggris sebesar 0,48 – 0,57 ppm dan khusus untuk Keputih kadar Hg lebih tinggi dibanding Pantai California yang merupakan pusat industri berat tercatat hanya 0,02-1,0 ppm).

Kemudian dampak pada manusia baru diketahui pada tahun 1996, oleh Daud Anwar SKM, Mkes. Penelitiannya menunjukkan bahwa darah dari sampel warga Kenjeran/Sukolilo mengandung Cuprum (Cu) 2511,07 ppb dan Merkuri (Hg) 2,48 ppb. Kandungan Cuprum dalam darah warga Kenjeran ini telah melampaui ambang batas yang ditetapkan WHO/FAO yaitu 800-1200 ppb. Penelitian yang dilakukan menunjukkan adanya kandungan merkuri (Hg) pada darah ibu-ibu warga Kenjeran sebesar 2,8 miligram perliter yang melebihi ambang batas yang di tentukan WHO yaitu kurang dari satu miligram perliter. Penelitian tersebut juga menyebutkan adanya kandungan timah dalam darah ibu-ibu di Kenjeran yaitu sebesar 416 mg/l, padahal kadar normal dalam darah adalah 200 mg/l. Hasil tes terhadap air susu ibu juga menunjukkan adanya kandungan timbal sebesar 543,2 mg/l yang melebihi kadar normal yaitu lebih kecil dari 5 mg/l, dan terdapat pula kandungan kadmium sebesar 36,1 mg/l padahal kadar normal harus lebih kecil dari 20 mg/l.

"Metil merkuri yang masuk

tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat, akibatnya terjadi degenerasi sel-sel syaraf pada otak kecil, sarung selaput syaraf dan

bagian otak yang

mengatur penglihatan"

Nah, dari data yang demikian nyata, apakah kita siap melihat saudara atau teman kita terserang minamata? Atau apakah kita rela generasi yang akan datang banyak yang menderita minamata? Apakah kita akan tetap membiarkan diri kita mengkonsumsi merkuri tiap hari? Apakah kita akan tetap membiarkan air yang mengalir dan masuk kedalam tubuh kita membawa merkuri yang pada akhirnya membuat anak cucu kita terlahir cacat? Apakah kita menunggu di Indonesia terjadi minamata II?

Sampai saat ini penyakit minamata belum ada obatnya. Untuk itu, marilah kita peduli kepada apa yang akan terjadi lima atau sepuluh tahun ke depan. Jika tetap membiarkan diri menimbun merkuri, sama saja mengundang sang minamata menghancurkan generasi penerus kita.

Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© www.suhendri22.blogspot.com
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top