Warung Online

01 Desember, 2008

Tugas IPA XI AK2 Kelompok 3

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. LATAR BELAKANG

 

Kita semua tahu Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda kembali yang kaya akan unsur hara.

Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah Indonesia banyak yang digunakan sesuai aturan yang berlaku tanpa memperhatikan dampak jangka panjang yang dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut.

Salah satu diantaranya, penyelenggaraan pembangunan di Tanah Air tidak bisa disangkal lagi telah menimbulkan berbagai dampak positif bagi masyarakat luas, seperti pembangunan industri dan pertambangan telah menciptakan lapangan kerja baru bagi penduduk di sekitarnya. Namun keberhasilan itu seringkali diikuti oleh dampak negatif yang merugikan masyarakat dan lingkungan.

Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah pertanian dan sekitarnya menyebabkan berkurangnya luas areal pertanian, pencemaran tanah dan badan air yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil/produk pertanian, terganggunya kenyamanan dan kesehatan manusia atau makhluk hidup lain. Sedangkan kegiatan pertambangan menyebabkan kerusakan tanah, erosi dan sedimentasi, serta kekeringan. Kerusakan akibat kegiatan pertambangan adalah berubah atau hilangnya bentuk permukaan bumi (landscape), terutama pertambangan yang dilakukan secara terbuka (opened mining) meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan bumi. Untuk memperoleh bijih tambang, permukaan tanah dikupas dan digali dengan menggunakan alat-alat berat. Para pengelola pertambangan meninggalkan areal bekas tambang begitu saja tanpa melakukan upaya rehabilitasi atau reklamasi.

Dampak negatif yang menimpa lahan pertanian dan lingkungannya perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena limbah industri yang mencemari lahan pertanian tersebut mengandung sejumlah unsur-unsur kimia berbahaya yang bisa mencemari badan air dan merusak tanah dan tanaman serta berakibat lebih jauh terhadap kesehatan makhluk hidup.

Berdasarkan fakta tersebut, sangat diperlukan pengkajian khusus yang membahas mengenai pencemaran tanah beserta dampaknya terhadap lingkungan di sekitarnya.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

 

Maksud dan tujuan pembuatan makalah ini antara lain, yaitu:

1. sebagai bahan kajian para mahasiswa mengenai dampak pencemaran terhadap lingkungan

2. sebagai cara untuk mencari berbagai cara untuk menanggulangi dampak pencemaran yang sedang dikaji

3. sebagai metode pengumpulan data tentang pencemaran lingkungan

 

 

BAB II

ANALISIS PERMASALAHAN

 

A.. PEMBAHASAN

 

a. Gambaran dari Pencemaran Tanah

 

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.

 

b. Dampak yang Ditimbulkan Akibat Pencemaran Tanah

 

Timbunan sampah yang berasal dari limbah domestik dapat mengganggu/ mencemari karena: lindi (air sampah), bau dan estetika. Timbunan sampah juga menutupi permukaan tanah sehingga tanah tidak bisa dimanfaatkan.

 

Timbunan sampah bisa menghasilkan gas nitrogen dan asam sulfida, adanya zat mercury, chrom dan arsen pada timbunan sampah bisa timbulkan pencemaran tanah / gangguan terhadap bio tanah, tumbuhan, merusak struktur permukaan dan tekstur tanah. Limbah lainnya adalah oksida logam, baik yang terlarut maupun tidak menjadi racun di permukaan tanah.

    Yang menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan tidak tembus air adalah Sampah anorganik tidak ter-biodegradasi, sehingga peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah hilang dan jumlah mikroorganisme di dalam tanahpun akan berkurang, oleh sebab itu tanaman sulit tumbuh dan bahkan mati sebab tidak mendapatkan makanan untuk berkembang.

    Tinja, deterjen, oli bekas, cat, adalah limbah cair rumah tangga; peresapannya kedalam tanah akan merusak kandungan air tanah dan zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat membunuh mikro-organisme di dalam tanah, inilah salah satunya yang disebutkan sebagai pencemaran tanah.

    Padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan adalah limbah padat hasil buangan industri.  Adanya reaksi kimia yang menghasilkan gas tertentu menyebabkan penimbunan limbah padat ini busuk yang selain menyebabkan pencemaran tanah juga menimbulkan bau di sekitarnya karena .

    Tertimbunnya limbah ini dalam jangka waktu lama menyebabkan permukaan tanah menjadi rusak dan air yang meresap ke dalam tanah terkontaminasi bakteri tertentu dan berakibat turunnya kualitas air tanah pada musim kemarau oleh karena telah terjadinya pencemaran tanah. Timbunan yang mengering akan dapat mengundang bahaya kebakaran.

    Sisa hasil industri pelapisan logam yang mengandung zat-zat seperti tembaga, timbal, perak,khrom, arsen dan boron adalah limbah cair yang sangat beracun terhadap mikroorganisme. Peresapannya ke dalam tanah akan mengakibatkan kematian bagi mikroorganisme yang memiliki fungsi sangat penting terhadap kesuburan tanah dan dalam hal ini pun menyebabkan pencemaran tanah..

    Pupuk yang digunakan secara terus menerus dalam pertanian akan merusak struktur tanah, yang menyebabkan kesuburan tanah berkurang dan tidak dapat ditanami jenis tanaman tertentu karena hara tanah semakin berkurang. Dalam kondisi ini tanpa disadari justru pupuk juga mengakibatkan pencemaran tanah.

    Pestisida yang digunakan bukan saja mematikan hama tanaman tetapi juga mikroorga-nisme yang berguna di dalam tanah. Padahal kesuburan tanah tergantung pada jumlah organisme di dalamnya. Selain pencemaran tanah penggunaan pestisida yang terus menerus akan mengakibatkan hama tanaman kebal terhadap pestisida tersebut.

 

Berbagai dampak ditimbulkan akibat pencemaran tanah, diantaranya:

 

1. Pada kesehatan

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.

Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat menyebabkan gangguan pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan Kematian.

 

 

 

 

2. Pada Ekosistem

 

http://onfinite.com/libraries/1283872/5e9.jpg

 

Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat Kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.

Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

 

pencemaran-tanah.jpg

 

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 150 tahun 2000 tentang Pengendalian kerusakan tanah untuk produksi bio massa: "Tanah adalah salah atu komponen lahan berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik, kimia, biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya."
Tetapi akibat kegiatan manusia, banyak terjadi kerusakan tanah. Di dalam PP No. 150 th. 2000 disebutkan bahwa "Kerusakan / pencemaran tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah".
Dalam rubrik ini kita akan melihat beberapa hal tentang; penyebab pencemaran tanah, dampaknya, dan cara penanggulangannya.


Penyebab Pencemaran Tanah

    Tanah adalah bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. sebagian besar makanan kita berasal dari permukaan tanah, walaupun memang ada tumbuhan dan hewan yang hidup di laut. Sudah sepatutnya kita menjaga kelestarian tanah sehingga bisa mendukung kehidupan di muka bumi ini. Sebagaimana pencemaran air dan udara, pencemaran tanah pun merupakan akibat kegiatan manusia.
Pencemaran tanah bisa disebabkan limbah domestik, limbah industri, dan limbah pertanian .

Limbah domestik

    Limbah domestik yang bisa menyebabkan pencemaran tanah bisa berasal dari daerah: pemukiman penduduk; perdagang-an/pasar/tempat usaha hotel dan lain-lain; kelembagaan misalnya kantor-kantor pemerintahan dan swasta; dan wisata, bisa berupa limbah padat dan cair.
1. Limbah padat berbentuk sampah anorganik. Jenis sampah ini tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme (non-biodegradable), misalnya kantong plastik, bekas kaleng minuman, bekas botol plastik air mineral, dsb.
2. Limbah cair berbentuk; tinja, deterjen, oli, cat, jika meresap kedalam tanah akan merusak kandungan air tanah dan bisa membunuh mikro-organisme di dalam tanah.

Limbah industri

    Limbah industri yang bisa menyebabkan pencemaran tanah berasal dari daerah: pabrik, manufaktur, industri kecil, industri perumahan, bisa berupa limbah padat dan cair.
1. Limbah industri yang padat atau limbah padat yang adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan. Misalnya sisa pengolahan pabrik gula, pulp, kertas, rayon, plywood, pengawetan buah, ikan daging dll.
2. Limbah cair yang adalah hasil pengolahan dalam suatu proses produksi, misalnya sisa-sisa pengolahan industri pelapisan logam dan industri kimia lainnya. Tembaga, timbal, perak, khrom, arsen dan boron adalah zat hasil dari proses industri pelapisan logam

Limbah pertanian

    Limbah pertanian yang bisa menyebabkan pencemaran tanah merupakan sisa-sisa pupuk sintetik untuk menyuburkan tanah/tanaman, misalnya pupuk urea, pestisida pemberantas hama tanaman, misalnya DDT.

c. Cara Menanggulangi Pencemaran Tanah
    Penanganan khusus terhadap limbah domestik yang berjumlah sangat banyak diperlukan agar tidak mencemari tanah. Pertama sampah tersebut kita pisahkan ke dalam sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegradable) dan sampah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Akan sangat baik jika setiap rumah tangga bisa memisahkan sampah atau limbah atas dua bagian yakni organik dan anorganik dalam dua wadah berbeda sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir.

    Sampah organik yang terbiodegradasi bisa diolah, misalnya dijadikan bahan urukan, kemudian kita tutup dengan tanah sehingga terdapat permukaan tanah yang dapat kita pakai lagi; dibuat kompos; khusus kotoran hewan dapat dibuat biogas dll sehingga dalam hal ini bukan pencemaran tanah yang terjadi tetapi proses pembusukan organik yang alami.

Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara penanganan yang terbaik dengan daur ulang. Kurangilah penggunaan pupuk sintetik dan berbagai bahan kimia untuk pemberantasan hama seperti pestisida.

Limbah industri harus diolah dalam pengolahan limbah, sebelum dibuang kesungai atau kelaut.

d. Penanganan yang Harus Dilakukan

 

    Ada beberapa langkah penangan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran tanah. Diantaranya:

1. Remidiasi

 

    Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

 

2. Bioremediasi

 

    Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

 

e. CONTOH KASUS PENCEMARAN TANAH YANG TERJADI DI BOGOR,JAWA BARAT

 

Pendahuluan

    Keinginan rakyat untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat  lagi-lagi mendapat tantangan dari pemerintah. Sikap arogansi dan mengintimidasi rakyat demi sebuah proyek ternyata masih menjadi tradisi di Era Reformasi ini. Warga Bogor Timur sebagai warga yang bertetangga dengan Ibukota Negara RI harus berjuang keras untuk dapat mendapatkan hak-haknya utamanya: hak hidup dan hak atas lingkungan (HaL) —yang merupakan hak asasi manusia. Ironisnya, bukan jawaban seperti yang diharapkan, akan tetapi popor senjata dan pentungan aparat yang didapatkan warga.

Saat pertama kali pemerintah Kabupaten Bogor mensosialisasikan kepada warga dikatakan bahwa pemerintah akan mempergunakan lahan seluas 20 hektar yang berada di Desa Bojong, Kecamatan Jonggol, sebagai pabrik keramik. Sehingga, pada saat itu, warga sekitar tidak terlalu mempersoalkan kegiatan pembangunan proyek. Akan tetapi, pada bulan Mei 2003, secara tiba-tiba, ada pengumuman di lokasi tersebut akan dijadikan TPA pengganti Bantar Gebang..  Secara bersamaan, masyarakat diberi kesempatan untuk mengajukan keluhan dan informasi dengan limit waktu paling lambat tanggal 17 Mei 2003 guna melengkapi AMDAL yang sedang dibuat. Anehnya, ketika warga (forum) mengirim surat keberatan atas rencana tersebut, tanggal 12 Mei 2003, Dinas terkait menyatakan bahwa AMDAL telah disahkan oleh Komisi AMDAL Daerah Kabupaten Bogor. Di mana proses pangajuan AMDAL sendiri hanya berlangsung dalam waktu kurang dari 5 bulan.

Proses yang tidak transparan dan menafikan keberadaan masyarakat dalam pembuatan AMDAL adalah tindakan yang tidak dibenarkan dan warga berhak untuk mengetahui apa di balik semua kebohongan yang dilakukan oleh Pemkab selama ini.


Menyalahi Perda Bogor No. 17 Tahun 2000

    Mengacu pada Perda No. 17 tahun 2000 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor, tidak ada satu pun pasal yang menyebutkan bahwa kawasan tersebut sebagai TPA. Justru sebaliknya, kawasan tersebut diperuntukkan sebagai kawasan Pengembangan Perkotaan. Kalaupun ada, kawasan yang diperuntukkan sebagai lokasi TPA adalah Desa Nambo, Kecamatan Cileungsi dan kawasan tersebut khusus untuk lokasi TPA sampah Kabupaten Bogor.

Secara geografis, dari sebelah utara lokasi TPA hanya dipisahkan oleh jalan desa, dan terdapat situ (danau kecil) dengan luas kurang lebih 100 ha, di mana dalam Perda No. 17 tahun 2000 diperuntukkan sebagai kawasan pariwisata. Dan lokasi TPA juga berada persis di tengah-tengah desa, setidaknya ada 7 desa yang sangat dekat dengan lokasi, antara lain desa Bojong, Situsari, Cipeucang, Singasari, Sukamaju, Singajaya, dan desa Mampir. Dengan tetap memaksakan kehendak untuk menjadikan TPA, berarti telah terjadi pelanggaran Undang-Undang No. 23 tahun 1997 pasal 5 ayat (1), yaitu bahwa, "Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat".

Ada indikasi kuat bahwa ditetapkannya Desa Bojong sebagai TPA terdapat konspirasi antara Pemda Bogor dengan kelompok tertentu, terutama Pemprov DKI Jakarta dan Investor. Kekuatan posisi tawar dalam perspektif bisnis lebih dominan sehingga dengan tanpa merasa berdosa melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang mereka buat sendiri.


Realita di Lapangan Tidak Sesuai dengan Izin Operasi

    Izin operasional yang diberikan oleh Pemda Bogor kurang lebih seluas 20 ha. 30% lahan untuk pengelolaan dan fasilitas lain, dan 70% lahan digunakan sebagai TPA atau 14 ha= 140.000 m3.

Dalam keterangan yang disosialisasikan kepada warga, tinggi gundukan sampah setinggi 5 m. Kalau dikalkulasikan, jumlah total sampah adalah 5 m x 140.000 m3 = 700.000 m3. Sementara itu, volume sampah yang masuk ke TPA Bojong per hari 2.000 ton atau 8.000 m3. Diasumsikan sebayak 75% sampah organik (bisa diurai) = 6.000 m3 per hari. Maka 700.000 m3 : 6.000 m3 per hari = 117 hari.

Dengan asumsi di atas, ketika izin operasi lokasi 20 ha dan volume sampah 2.000 ton per hari, maka secara teori TPA Bojong hanya akan bertahan 117 hari atau kurang lebih 4 bulan. Sedangkan, izin operasi sampai 5 tahun. Tentunya, hal ini patut dipertanyakan, atau ada rencana lain di mana publik tidak boleh tahu?


Ancaman Rusaknya Lingkungan Hidup

Pencemaran Tanah
    Dengan asumsi volume sampah yang tidak terolah sebanyak 600 ton per hari, maka diperkirakan dalam 1 (satu) bulan tumpukan sampah yang tidak terolah bisa mencapai 18.000 ton. Dan sampah tersebut akan menggunung seperti apa yang pernah terjadi di Bantar Gebang. Otomotis sampah akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas lingkungan sekitar. Di mana diameter dampaknya bisa mencapai 0 sampai 10 km dari lokasi.

Kegiatan penimbunan sampah akan berdampak terhadap kualitas tanah (fisik dan kimia) yang berada di lokasi TPST dan sekitarnya. Tanah yang semula bersih dari sampah akan menjadi tanah yang bercampur dengan limbah/sampah, baik organik maupun an-organik, baik sampah rumah tangga maupun limbah industri dan rumah sakit. Tidak ada solusi yang konkrit dalam pengelolaannya, maka potensi pencemaran  tanah secara fisik akan berlangsung dalam kurun waktu sangat lama.

Akibat dijadikan Bojong sebagai keranjang sampah, seluruh kawasan dekat lokasi TPA dan lahan yang dilalui oleh truk-truk sampah ke lokasi TPA tidak ada harganya. Warga semakin frustasi karena hanya tanah yang menjadi penopang perekonomian satu-satunya warisan paling berharga dari nenek moyang mereka. Bukan kultur warga Bojong dan sekitarnya menjadi pekerja informal apalagi sebagai pemulung. 


Pencemaran Terhadap Kualitas Air Tanah
    Air tanah sebagai kebutuhan utama untuk pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat Jonggol dan sekitarnya terancam keberadaannya. Pengalaman Bantar Gebang menyebutkan, bahwa sampah apapun dapat diterima, sampah pasar dan sampah rumah tangga, limbah industri dan bahkan limbah rumah sakit pun akan masuk ke TPA. Dan, hal ini akan mempengaruhi kualitas air tanah akibat limbah sampah yang akan meresap ke tanah dan akan terkumpulnya berbagai macam penyakit di sekitar wilayah proyek. Potensi tercemarnya air tanah oleh limbah B3 pun tidak dapat dihindari, akibat adanya limbah industri dan limbah rumah sakit.

    Hasil penelitian Dinas Kesehatan, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa pencemaran di Bantar Gebang pada bulan September 1999 menyebutkan 40% derajat keasaman air telah diambang batas, 95% ditemukan bakteri ecoli di air tanah (bakteri yang bisa menyumbat saluran pernafasan).


Pencemaran Udara
    Kegiatan penimbunan sampah menimbulkan bau tidak sedap, baik pada lokasi TPST maupun daerah sekitarnya dan jalur yang dilewati. Dampak bau bukan bersifat sementara, melainkan selama TPST masih berfungsi, maka bau tidak sedap akan terjadi selama kegiatan berlangsung. Radius bau sampah dari lokasi TPST berjarak antara 0–10 km, maka Desa yang paling besar menerima dampaknya adalah Desa Bojong, Cipeucang, Situsari, Singasari, Sukamaju, Singajaya, dan Desa Mampir. Baik desa yang dilewati jalur transportasi pengangkutan sampah maupun desa yang berada di sekeliling lokasi proyek. Secara nyata, kegiatan proyek akan berdampak terhadap kualitas udara, khususnya bau, dan meningkatnya kadar SO2 dan NH2 di udara secara permanen selama kegiatan proyek berlangsung. Secara otomatis, dengan tercemarnya udara, maka kesehatan lingkungan penduduk di sekitar TPST akan terganggu terutama penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).

    Dalam temuan Dinas Kesehatan, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa 34% hasil foto rontgen ditemukan penduduk sekitar Bantar Gebang positif menderita TBC. Menurut sumber yang sama, 99% mengalami infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), 6% penduduk mengalami tukak tulang.

Tidak dapat dihindari bahwa terjadinya kebakaran sampah akibat gas methan maupun sengaja akan berpengaruh pada perubahan iklim (climate change), di mana hasil-hasil pembakaran tersebut menyebabkan perubahan temperatur  planet bumi semakin panas. Gas-gas yang menimbulkan efek rumah kaca, menyebabkan kerusakan lapisan ozon di antaranya carbon dioxide, methan, dan clofluorocarbons (CFC). Kegiatan pembakaran sampah semakin melengkapi proses pemanasan global di samping emisi kendaraan bermotor (Timbal/Pb), pembakaran bahan bakar minyak generator yang ada di lokasi proyek.


Warga Bogor Timur Menentang

    Perlawanan warga Bogor Timur telah terjadi sejak pertama kali adanya kendaraan proyek yang masuk ke Desa Bojong pada awal 2003. Kendaraan truk pengangkut bahan untuk pelebaran jalan dan peralatan TPST. Penolakan, baik bersifat fisik maupun lobi, telah dilakukan, unjuk rasa ke berbagai instansi terkait telah dilakukan.

Gerakan aksi masa pertama kali digelar pada bulan Juni 2003 di Pemkab Bogor dan DPRD Bogor atas inisiatif masyarakat sendiri dengan membentuk forum bernama FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDULI LINGKUNGAN. Massa sebanyak 5000 orang mendatangi kantor Pemkab dan DPRD Bogor. Aksi ini diterima oleh anggota DPRD fraksi Golkar dan Komisi  A dan B. Dalam dialog, anggota berjanji akan meninjau ulang keputusan Pemkab Bogor untuk menjadikan Bojong sebagai TPST. Dalam kesempatan tersebut, warga sempat meminta komitmen dan pernyataan tertulis dari anggota dewan.

Tuntutan dan gerakan aksi masa kembali dicanangakan pada bulan Agustus dengan tujuan aksi ke Pemprov DKI Jakarta dan anggota DPRD DKI Jakarta. Pertemuan dengan DPRD DKI hanya berupa berbagi informasi (sharing) dan menampung aspirasi warga Jonggol dan sekitarnya. Sementara itu, dalam aksi yang dilancarkan warga ke Balai kota dengan melempar sampah ke halaman kantor tidak mendapat respon sedikitpun.

    Dalam waktu bersamaan, warga telah melayangkan surat ke berbagai instansi, antara lain Bupati Bogor, Pemprov DKI Jakarta, DPRD Bogor, DPRD DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, hasilnya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan, sehingga warga putus asa kepada siapa lagi akan mengadu.

Selama kegiatan konstruksi, warga diintimidasi secara psikologis, dan dibawah ancaman tekanan aparat. Beberapa tokoh masyarakat diikuti oleh intel polisi agar tidak bisa berkomunikasi dengan warga.

mengacung-acungkan senapan dan pentungan. Warga masih tetap bertahan dan tidak lama kemudian terdengar sirine dari mobil patroli. Pada saat itu, juga aparat polisi merangsek maju memukul, menendang, dan mencekik serta menangkapi warga yang berada di lokasi tersebut. Sebagian warga lari dan sebagian bertahan, 4 orang warga, yaitu Misar (25), Rohim (19), Andi (38), dan Nasim (25), yang bertahan diangkut ke Polres Bogor dengan tuduhan menghambat pembangunan. Sementara itu, satu orang bapak dicekik dipukul dengan pentungan dan seorang perempuan dicekik oleh aparat.  

Selain itu, juga belum ada kajian secara mendalam tentang dampak teknologi pengelolaan sampah Bala press, problem transportasi dan yang paling penting adalah akan adanya konflik sosial, yaitu antara penduduk asli Bojong dengan kelompok pekerja informal (pemulung). Di mana, secara sadar, akan sangat jauh berbeda dengan perilaku masyarakat adat dalam memperlakukan lingkungannya.

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

    Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

    Ada beberapa cara untuk mengurangi dampak dari pencemaran tanah, diantaranya dengan remediasi dan bioremidiasi. Remediasi yaitu dengan cara membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Sedangkan Bioremediasi dengan cara proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri).

B. SARAN

    Untuk lebih memahami semua tentang pencemaran tanah, disarankan para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah ini. Selain itu, diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari dalam menjaga kelestarian tanah beserta penyusun yang ada di dalamnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Soekarto. S. T. 1985. Penelitian Organoleptik Untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Bhatara Karya Aksara, Jakarta. 121 hal.

Wikipedia.2008. Pencemaran Tanah (On-line). http://id.wikipedia.org/wiki/pencemaran_tanah. diakses 02 Desember 2008.

Bachri, Moch. 1995. Geologi Lingkungan. CV.. Aksara, Malang. 112 hal.

 

Di Susun Oleh:

- Lia Aulia - Lisda Sri Nurwenda - Lusi Herdianti - Mila Siti Nur Ela - Nina Rahayu - Nuraeni - Putriana Ulfa - Qizza Virgine Zanisya

Disusun  Oleh:

-  Lia Aulia

-  Lisda Sri Nurwenda

-  Lusi Herdianti

-  Mila Siti  Nurela

-  Nina  Rahayu

-  Nuraeni

-  Putriana Ulfa

-  Qizza Virgine  Zanisya

 

 



Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© www.suhendri22.blogspot.com
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top