Warung Online

02 Desember, 2008

tugas ipa XI multimedia 2 kelompok 4

XI Multimedia 2

Tugas Ipa Kelompok 4

Ressy Risthiany
Riska Pujiarti
Ryan Purnama
Shena Agustian
Siti Patonah
Susi Herlina

 

Dampak Pencemaran Air Terhadap Kesehatan Manusia

Sumber : http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=47749 ; 3 Desember 2007

Dengan semakin meluasnya kawasan pemukiman penduduk, semakin meningkatnya produk industri rumah tangga, serta semakin berkembangnya Kawasan Industri di kota besar, akan memicu terjadinya peningkatan pencemaran pada perairan pantai dan laut. Hal ini disebabkan karena semua limbah dari daratan, baik yang berasal dari pemukiman perkotaan maupun yang bersumber dari kawasan industri, pada akhirnya bermuara ke pantai.

Limbah domestik yang berasal dari rumah tangga, perhotelan, rumah sakit dan industri rumah tangga yang terbawa oleh air sisa-sisa pencucian akan terbuang ke saluran drainase dan masuk ke kanal dan selanjutnya terbawa ke pantai. Limbah yang dibuang pada tempat pembuangan sampah akan terkikis oleh air hujan dan terbawa masuk ke kanal atau sungai dan selanjutnya juga bermuara ke pantai. Limbah yang berasal dari kawasan industri baik yang sudah diolah maupun yang belum, juga pada akhirnya akan terbuang ke perairan pantai.


Polutan dalam Organisme Laut
Air laut adalah suatu komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di mana buangan limbah dari daratan akan bermuara ke laut. Selain itu air laut juga sebagai tempat penerimaan polutan (bahan cemar) yang jatuh dari atmosfir. Limbah tersebut yang mengandung polutan kemudian masuk ke dalam ekosistem perairan pantai dan laut. Sebagian larut dalam air, sebagian tenggelam ke dasar dan terkonsentrasi ke sedimen, dan sebagian masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut (termasuk fitoplankton, ikan, udang, cumi-cumi, kerang, rumput laut dan lain-lain).

Kemudian,polutan tersebut yang masuk ke air diserap langsung oleh fitoplankton.

Fitoplankton adalah produsen dan sebagai tropik level pertama dalam rantai makanan. Kemudian fitoplankton dimakan zooplankton. Konsentrasi polutan dalam tubuh zooplankton lebih tinggi dibanding dalam tubuh fitoplankton karena zooplankton memangsa fitoplankton sebanyak-banyaknya. Fitoplankton dan zooplankton dimakan oleh ikan-ikan planktivores (pemakan plankton) sebagai tropik level kedua. Ikan planktivores dimangsa oleh ikan karnivores (pemakan ikan atau hewan) sebagai tropik level ketiga, selanjutnya dimangsa oleh ikan predator sebagai tropik level tertinggi.

Ikan predator dan ikan yang berumur panjang mengandung konsentrasi polutan dalam tubuhnya paling tinggi di antara seluruh organisme laut. Kerang juga mengandung logam berat yang tinggi karena cara makannya dengan menyaring air masuk ke dalam insangnya setiap saat dan fitoplankton ikut tertelan. Polutan ikut masuk ke dalam tubuhnya dan terakumulasi terus-menerus dan bahkan bisa melebihi konsentrasi yang di air.

Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada akhirnya sampai ke manusia. Bila polutan ini berada dalam jaringan tubuh organisme laut tersebut dalam konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai bahan makanan maka akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena kesehatan manusia sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan. Makanan yang berasal dari daerah tercemar kemungkinan besar juga tercemar. Demikian juga makanan laut (seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan polutan yang tinggi.

Salah satu polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah logam berat. WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan FAO (Food Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensil dan memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang menyebabkan kematian. Beberapa logam berat yang berbahaya adalah air raksa atau mercury (Hg), Kadmium (Cd), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), dan lain-lain.

Mercury
Air Raksa atau Mercury (Hg) adalah salah satu logam berat dalam bentuk cair. Terjadinya pencemaran mercury di perairan laut lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia dibanding faktor alam. Meskipun pencemaran mercury dapat terjadi secara alami tetapi kadarnya sangat kecil. Pencemaran mercury secara besar-besaran disebabkan karena limbah yang dibuang oleh manusia.

Manusia telah menggunakan mercury oksida (HgO) dan mercury sulfida (HgS) sebagai zat pewarna dan bahan kosmetik sejak jaman dulu. Dewasa ini mercury telah digunakan secara meluas dalam produk elektronik, industri pembuatan cat, pembuatan gigi palsu, peleburan emas, sebagai katalisator, dan lain-lain. Penggunaan mercury sebagai elektroda dalam pembuatan soda api dalam industri makanan seperti minyak goreng, produk susu, kertas tima, pembungkus makanan juga kadang mencemari makanan tersebut.

Pencemaran logam mercury (Hg) mulai mendapat perhatian sejak munculnya kasus minamata di Jepang pada tahun 1953. Pada saat itu banyak orang mengalami penyakit yang mematikan akibat mengonsumsi ikan, kerang, udang dan makanan laut lainnya yang mengandung mercury.

Kasus minamata yang terjadi dari tahun 1953 sampai 1975 telah menyebabkan ribuan orang meninggal dunia akibat pencemaran mercury di Teluk Minamata Jepang. Industri Kimia Chisso menggunakan mercury khlorida (HgCl2) sebagai katalisator dalam memproduksi acetaldehyde sintesis di mana setiap memproduksi satu ton acetaldehyde menghasilkan limbah antara 30-100 gr mercury dalam bentuk methyl mercury (CH3Hg) yang dibuang ke laut Teluk Minamata.

Methyl mercury ini masuk ke dalam tubuh organisme laut baik secara langsung dari air maupun mengikuti rantai makanan. Kemudian mencapai konsentrasi yang tinggi pada daging kerang-kerangan, crustacea dan ikan yang merupakan konsumsi sehari-hari bagi masyarakat Minamata. Konsentrasi atau kandungan mercury dalam rambut beberapa pasien di rumah sakit Minamata mencapai lebih 500 ppm. Masyarakat Minamata yang mengonsumsi makanan laut yang tercemar tersebut dalam jumlah banyak telah terserang penyakit syaraf, lumpuh, kehilangan indera perasa dan bahkan banyak yang meninggal dunia.

Kadmium
Kadmium (Cd) menjadi populer sebagai logam berat yang berbahaya setelah timbulnya pencemaran sungai di wilayah Kumamoto Jepang yang menyebabkan keracunan pada manusia. Pencemaran kadmium pada air minum di Jepang menyebabkan penyakit "itai-itai". Gejalanya ditandai dengan ketidak-normalan tulang dan beberapa organ tubuh menjadi mati. Keracunan kronis yang disebabkan oleh Cd adalah kerusakan sistem fisiologis tubuh seperti pada pernapasan, sirkulasi darah, penciuman, serta merusak kelenjar reproduksi, ginjal, jantung dan kerapuhan tulang.

Kadmium telah digunakan secara meluas pada berbagai industri antara lain pelapisan logam, peleburan logam, pewarnaan, baterai, minyak pelumas, bahan bakar. Bahan bakar dan minyak pelumas mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubara mengandung Cd sampai 2 ppm, pupuk superpospat juga mengandung Cd bahkan ada yang sampai 170 ppm. Limbah cair dari industri dan pembuangan minyak pelumas bekas yang mengandung Cd masuk ke dalam perairan laut serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang terlepas ke atmosfir dan selanjutnya jatuh masuk ke laut. Konsentrasi Cd pada air laut yang tidak tercemar adalah kurang dari 1 mg/l atau kurang dari 1 mg/kg sedimen laut.

Konsentrasi Cd maksimum dalam air minum yang diperbolehkan oleh Depkes RI dan WHO adalah 0,01,mg/l. Sementara batas maksimum konsentrasi atau kandungan Cd pada daging makanan laut yang layak bagi kesehatan yang direkomendasikan FAO dan WHO adalah lebih kecil dari 0,95 mg/kg. Sebaliknya Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan merekomendasikan tidak lebih dari 2,0 mg/kg.

Timbal
Timbal (Pb) juga salah satu logam berat yang mempunyai daya toksitas yang tinggi terhadap manusia karena dapat merusak perkembangan otak pada anak-anak, menyebabkan penyumbatan sel-sel darah merah, anemia dan mempengaruhi anggota tubuh lainnya. Pb dapat diakumulasi langsung dari air dan dari sedimen oleh organisme laut. Dewasa ini pelepasan Pb ke atmosfir meningkat tajam akibat pembakaran minyak dan gas bumi yang turut menyumbang pembuangan Pb ke atmosfir. Selanjutnya Pb tersebut jatuh ke laut mengikuti air hujan. Dengan kejadian tersebut maka banyak negara di dunia mengurangi tetraeil Pb pada minyak bumi dan gas alam untuk mengurangi pencemaran Pb di atmosfir.

WHO dan FAO merekomendasikan bahwa konsentrasi Pb pada daging makanan laut yang layak konsumsi adalah lebih kecil dari 0,715 mg/kg. Sebaliknya Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan merekomendasikan tidak lebih dari 2,0 mg/kg.

Perlu Perhatian Serius
Berdasarkan hasil beberapa penelitian baik penelitian skripsi mahasiswa, penelitian perguruan tinggi, penelitian Litbang Pemerintah, penelitian LSM, penelitian Bapedalda menunjukkan bahwa beberapa titik di Pantai Losari sudah mengalami tekanan pencemaran yang cukup serius. Oleh karena itu, pencemaran Pantai Losari seharusnya perlu mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak, baik masyarakat awam, Lembaga Sosial Masyarakat, pemerhati lingkungan, peneliti, perguruan tinggi maupun pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut tanpa ada perhatian serius maka tidak menutup kemungkinan dampak yang ditimbulkan jauh lebih besar dan harus mengeluarkan biaya kesehatan dan biaya sosial yang jauh lebih besar. Selanjutnya, dilakukan monitoring dan kontroling terhadap konsentrasi logam berat pada makanan laut yang diambil di sekitar area yang tercemar terutama pantai Losari dan muara Sungai Tallo demi kemaslahatan umat manusia.

 

Bahaya Dari Akibat Polusi Air
Bibit-bibit penyakit berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif dapat merugikan manusia. Berbagai polutan memerlukan O2 untuk pengurainya. Jika O2 kurang , pengurainya tidak sempurna dan menyebabkan air berubah warnanya dan berbau busuk. Bahan atau logam yang berbahaya seperti arsenat, uradium, krom, timah, air raksa, benzon, tetraklorida, karbon dan lain-lain. Bahan-bahan tesebut dapat merusak organ tubuh manusia atau dapat menyebabkan kanker. Sejumlah besar limbah dari sungai akan masuk kelaut.
Polutan ini dapat merusak kehidupan air sekitar muara sungai dan sebagian kecil laut muara. Bahan-bahan yang berbahaya masuk kelaut atau samudera mempunyai akibat jangka panjang yang belum diketahui. Banyak jenis kerang-kerangan yang mungkin mengandung zat yang berbahaya untuk dimakan. Laut dapat pula tecemar oleh minyak yang asalnya mungkin dari pemukiman, pabrik, melalui sungai atau dari kapal tanker yang rusak. Minyak dapat mematikan, burung dan hewan laut lainnya, sebagai contoh, efek keracunan hingga dapat dilihat di Jepang. Merkuri yang dibuang sebuah industri plastik keteluk minamata terakumulasi di jaringan tubuh ikan dan masyarakat yang mengkonsumsinya menderita cacat dan meninggal.
Akibat yang ditimbulkan oleh polusi air:
a. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya, kandungan oksigen
b. Terjadinya ledakan ganggang dan tumbuhan air (eurotrofikasi)
c.. Pendangkalan dasar perairan
d. Tersumbatnya penyaring reservoir, dan menyebabkan perubahan ekologi
e. Dalam jangka panjang adalah kanker dan kelahiran cacat
f. Akibat penggunaan pertisida yang berlebihan sesuai selain membunuh hama dan penyakit, juga membunuh serangga dan makhluk berguna terutama predator
g. Kematian biota kuno, seperti plankton, iakn, bahkan burung
h. Mutasi sel, kanker, dan leukeumia

Tragedi Buyat, Hegemoni Kapitalisme Global
 
Oleh Muhamad Karim

Sudah sepekan media massa nasional memberitakan tragedi yang melanda warga Teluk Buyat, Ratatotok, Sulawesi Utara. Kesimpulan dari hasil analisis bahwa tingginya kandungan Arsen (As) dan Merkuri (Hg) yang mencemari Teluk Buyat menjadi penyebab utama munculnya penyakit tersebut.
Penyakit minamata muncul pada tahun 1950 di Teluk Minamata, Provinsi Kumamoto Kyushu, Jepang. Gelagatnya terjadi pada kucing yang mati secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya dan baru terungkap secara pasti tahun 1956, tatkala orang-orang yang mengkonsumsi ikan dari Teluk Minamata mengalami tingkah laku yang aneh. Mereka tiba-tiba saja berteriak, melakukan gerakan-gerakan aneh dan bahkan tidak bisa lagi memegang sumpit (Pamuji, 2004).. Setelah diteliti ternyata penyebabnya adalah pencemaran merkuri akibat buangan limbah pabrik Chisso Coorporation yang memproduksi acetaldehyde, yakni sejenis bahan kimia untuk memproduksi plastik.
Kini, hal serupa terjadi di Teluk Buyat, Minahasa. Hasil penelitian seperti dikutip harian ini menemukan bahwa 95 % sampel darah warga Buyat mengandung As dan 65 % mengandung Hg.
Kasus Teluk Buyat sebenarnya mulai terkuak sejak medio 1996. Kala itu, nelayan dikejutkan oleh matinya ribuan ikan di kawasan itu. Pejabat pemerintah setempat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa penyebab kejadian itu adalah sampah lingkungan (tailing) yang dibuang oleh perusahaan penambangan emas, PT Newmont Minahasa Raya (NMR). Perusahaan itu sahamnya dimiliki perusahaan multinasional Newmont Mining Corporation yang berbasis di USA.
Gaung peristiwa itu terus berlanjut dengan munculnya laporan LSM, Mining Watch Canada dan Project Underground, yang menuduh bahwa perusahaan NMR telah membuang limbah tailing ke Teluk Buyat sekitar 2,8 juta ton kurun waktu tahun 1996-2001.

Hegemoni Kapitalisme Global
Secara teoretis, berat jenis tailing lebih berat dari berat jenis air, sehingga tidak mungkin akan menyebar atau mengapung di permukaan teluk. Teori ini menjadi kuat tatkala pembuangan tailing dilakukan di bawah kedalaman lapisan thermocline.
Tetapi harus diingat bahwa di laut ada fenomena alam yang menyebabkan naiknya bahan-bahan beracun yang sudah mengendap di dasar. Umpamanya, fenomena up-willing. Jika fenomena up-willing terjadi di Teluk Buyat maka peluang naiknya bahan-bahan beracun (As dan Hg) dari dasar lautan yang berasal dari limbah tailing dimungkinkan. Dampaknya, biota-biota di permukaan laut akan mengalami kematian massal. Bagi yang tidak mengalami kematian, logam berat As dan Hg tersebut terakumulasi dalam tubuhnya tanpa mengalami proses penguraian. Jika biota ini dikonsumsi manusia, akan menimbulkan penyakit yang mengerikan yakni MINAMATA
Tragedi Teluk Buyat merupakan implikasi dari kuatnya hegemoni kapitalisme global yang ditandai berkembangnya proyek globalisasi.. Proyek ini dikembangkan melalui tangan-tangan Multinational Corporations (MNCs – perusahaan perusahaan multinasional) yang mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) secara berlebihan di negara berkembang tanpa mempertimbangkan lingkungan. Proyek semacam ini kerapkali disebut sebagai neo-liberalisme.
Tragedi Teluk Buyat sudah terjadi dan tidak mungkin dalam waktu yang singkat pencemaran Arsen dan Merkuri yang mengendap di dasar laut dapat dibersihkan. Pemerintah Jepang - dalam tragedi Teluk Minamata - harus membutuhkan waktu 40 tahun dengan biaya sebesar 48,5 miliar yen (setara Rp 3,6 triliun) guna membersihkan merkuri yang mengendap di dasar teluk itu. Yang terpenting adalah bagaimana mencari solusi yang tepat sehingga kasus yang serupa tidak terjadi di tempat lain.

Dua Pendekatan
Setidaknya terdapat dua pendekatan solusi yang dapat dilakukan untuk menghadapi kuatnya hegemoni kapitalisme global yakni pendekatan domestic front dan diplomatic front meminjam istilah A'an Suryana. Pertama, dengan pendekatan domestik, negara mestinya sejak awal lebih mengefektifkan kebijakan lingkungan, ketimbang mengandalkan peraturan-peraturan yang sudah ada untuk mengantisipasi dampak lingkungan yang akan terjadi.
Harusnya pemerintah mampu mengoptimalkan partisipasi semua stakeholders (masyarakat setempat, LSM, tokoh masyarakat dan adat) yang ada di daerah itu untuk mengawasi beroperasinya MNCs.
Hal lain adalah pemerintah harus meminta kepada MNCs agar transparan dalam mengelola lingkungan dan memberikan kesadaran lingkungan bagi masyarakat setempat. Pemerintah juga perlu menerapkan pajak lingkungan yang ketat, seingga menjadi insentif bagi perusahaan MNCs untuk meminimalisasi volume pembuangan limbahnya. Ini akan memaksa perusahaan itu menerapkan teknologi pengolahan limbah yang menjamin keamanannya untuk dibuang ke perairan.
Yang tidak kalah penting adalah jangan ada lagi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) antara perusahaan MNCs dan penguasa, baik di pusat maupun di daerah terutama dalam proses "tender" untuk mendapatkan kontrak-kontrak pemerintah dalam sektor pertambangan. Di satu sisi, perbuatan ini hanya menguntungkan segelintir orang dalam lingkaran kekuasaan karena mendapatkan rente ekonomi dengan cara KKN. Tetapi, di sisi lain rakyat dan lingkungan dikorbankan demi mengejar keuntungan pribadi. Tragedi Teluk Buyat adalah contoh yang tak terbantahkan.
Kedua, pendekatan diplomatic front yang menekankan agar negara berkembang berani mendesak negara maju untuk peduli terhadap lingkungan. Hal ini penting dilakukan karena sebagian besar perusahaan MNCs berbasis di negara maju seperti USA, Kanada, Inggris. Walaupun pendekatan semacam ini tipis harapannya, tetapi paling tidak ada upaya negara berkembang untuk terus-menerus memperjuangkan masalah lingkungan. Sebabnya sampai kini, mereka tidak mau menandatangani Protokol Kyoto. Juga di KTT Bumi di Johannesburg, Amerika Serikat hanya diwakili oleh menteri luar negerinya, bukan presiden.
Kalau pemerintah dan perusahaan MNCs mengabaikan kedua pendekatan ini, tidak menutup kemungkinan masyarakat akan melakukan gugatan class action di pengadilan Indonesia dan mahkamah internasional. Kita tentunya berharap agar tragedi Teluk Buyat di Minahasa tidak "separah" Teluk Minamata yang memerlukan waktu lama dan biaya besar untuk membersihkan merkuri yang mengendap di dasar laut.

Penulis adalah peneliti Center for Information and Development Studies, Indonesia, Jakarta
 Copyright © Sinar Harapan 2003

Limbah di Air Barito dan Martapura

Dari hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kalsel yang dilakukan secara berkala, penyakit yang berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan terbesar masyarakat.
Hal tersebut tercermin dari masih tingginya kejadian seperti keracunan dan timbulnya penyakit yang berbasis lingkungan demikian.
Kondisi ini di disebabkan masih buruknya kondisi sanitasi dasar terutama air bersih dan penggunaan jamban keluarga yang tidak memperhatikan ketentuan kesehatan.
Selain itu, perilaku hidup sehat masyarakat juga masih sangat rendah, yang diantaranya tercermin dalam kurang bersihnya pengelolaan bahan makanan serta buruknya penatalaksanaan bahan kimia dan pestisida yang kurang memperhatikan aspek kesehatan.
Data hasil survei yang dilakukan Dinkes sejak tahun 1995, kematian bayi di Kalsel rata-rata disebabkan karena buruknya kondisi lingkungan.
Penyakit akibat faktor lingkungan tersebut diantaranya, Asthma, 2,5 persen, Pneumena 16,4 persen, Diare, 11,4 persen, tetanus, 4,7 persen, ISPA, 3,9 persen, Ensefalitis 2,5 persen, Bronchitis 2,5 dan Emfisema, 2,5 persen.
Sementara itu, Rusdiansyah SH, Kasi pengawasan tempat umum dan lingkungan, mengungkapkan, kendati air sungai sudah tercemar, asalkan warga mengolahnya dengan benar, air sungai Barito dan Sungai Martapura bisa saja dikonsumsi.
Menurutnya, sebaiknya sebelum air yang tercemar limbah tersebut di konsumsi maka terlebih dahulu di endapkan baru kemudian di rebus hingga mendidih 100 drajat celcius selama satu menit, dengan demikian diharapkan bakteri yang ada dalam air tercemar tersebut bisa mati.
Sebagaimana diketahui, hingga saat ini warga Banjarmasin, terutama yang tinggal di pinggiran sungai masih sangat tergantung dengan keberadaan sungai untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik itu, mandi, mencuci memasak dan membuang air besar.
Bahkan beberapa warung yang berada di pinggir sungai, masih sering mencuci beras disungai tersebut secara langsung, padahal di sungai itu juga warga lainnya membuang air besar.
Berdasarkan keterangan budaya masyarakat Banjarmasin yang banyak membuang air besar (Tinja) kangsung ke sungai melalui budaya jamban menyebabkan kandungan bakteri coliform yang berasal dari tinja manusia tersebut sangat tinggi di dalam air kedua sungai tersebut dan kandungannya jauh berada dari ambang batas toleransi.
Bila air yang tercemar bakteri coliform tersebut dikonsumsi tanpa proses pemanasan yang sesuai maka bisa menimbulkan penyakit diare serta infeksi pencernaan.
Bukti demikian bisa dilihat dikala air PDAM mecet pada musim kemarau dan banyak warga mengandalkan air sungai untuk makan dan minum maka akhitnya sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare di kota Banjarmasin.
Kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Banjarmasin sendiri juga mengungkapkan akibat begitu tingginya tingkat pencemaran limbah di sungai maka kandungan oksigen dalam air Sungai Barito dan Martapura terus berkurang.
Akibat dari kandungan oksigen dalam air (DO) terus berkurang maka beberapa jenis ikan air Sungai Martapura kini menghilang. kata Kepala Bapedalda Kota Banjarmasin, Hesly Junianto,SH.
Didampingi Kepala bidang Pengawasan dan Pengendalian Bapedalko Banjarmasin, Drs.Hamdi dan staf lainnya, Hesly Junianto mengutarakan hasil penelitian pihaknya ternyata kandungan oksigen dalam air tersebut di bawah ambang batas.
Sebagai contoh saja, kandungan udara dalam air yang ideal 6 miligram (Mg) per liter, tetapi nyatanya di sepuluh titik lokasi yang diteliti kondisinya sudah memprihatinkan.
Akibatnya banyak ikan yang tidak bisa lagi bernapas lantaran oksigen yang kurang itu, tambahnya seraya menyebutkan berkurangnya oksigen tersebut tersebut karena begitu tingginya tingkat pencemaran di sungai.
Seperti pencemaran limbah rumah tangga, limbah industri, serta limbah alam lainnya, di Kota Banjarmasin masyarakat terbiasa membuang sampah ke sungai, sementara 23 industri kayu dan industri lainnya skala besar di pinggir sungai juga dinyatakan positip mencemari air dikedua sungai tersebut.
Pencemaran limbah demikian mengakibatkan limbah itu harus diproses oleh jasad organik dalam air. Jasad-jasad dalam air yang memproses limbah air tersebut ternyata memerlukan oksigen cukup besar pula akhirnya jumlah oksigen di dalam air terus berkurang.
Dampak kian berkurangnya jumlah oksigen tersebut adalah menghilangnya beberapa jenis ikan terutama ikan khas Sungai Martapura seperti Kelabau, Sanggang, Jelawat, serta ikan Puyau.
Berdasarkan penelitia tersebut kandungan oksigen di dalam air sungai yang diteliti seperti di Sungai Basirih kandungan udaranya mencapai 5,36 Mg/L, air Sungai Mantuil 5,8 Ml/L, air Sungai pelambuan 5,8 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucuk 4,8 Mg/L, air Sungai Kayutangi 4,78,Ml/L, air Sungai Banua Anyar 4,79 Ml/L, air Sungai Bilu 5,03 Ml/L, air Sungai Baru 4,74 Ml/L, serta air Sungai Muara Kelayan 4,79 Ml/L.
Sungai-sungai kecil yang diteliti itu merupakan anak sungai Martapura, sedangkan Sungai Martapura sendiri adalah bagian dari Sungai Barito.
Selain kandungan udara yang terus berkurang di sungai yang membelah kota Banjarmasin tersebut ternyata kandungan besi juga ternyata terlalu tinggi di atas ambang batas hingga juga membahayakan kesehatan.
Menurutnya dalam acara jumpa pers yang dipandu oleh kepala Dinas Infokum Kota Banjarmasin, Drs.Bambang Budianto tersebut juga terungkap bahwa kandungan besi yang ideal untuk kehidupan hanyalah 0,3 Ml/l, tetapi hasil penelitian disepuluh titik lokasi juga sangat tinggi..
Pengaruh yang bisa dirasakan masyarakat Banjarmasin dengan kandungan besi yang tinggi tersebut banyak warga yang mengalami kerusakan gigi, tambahnya seraya menyebutkan kandungan besi itu lebih banyak karena faktor alam yang berawa-rawa.
Hasil penelitian kandungan besi yang ada seperti di sungai Basisih terdapat kandungan besi 1,1 Mg/L, air Sungai Mantuil 1,91 Mg/L, air Sungai Pelamuan 1,5 Mg/, air Sungai Suaka Insan 1,65 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucok 2,08 Mg/L, di air Saungai Kayutangi 1,76 Mg/L, dan air Sungai banua Anyar 1,84 Mg/L.
Berdasarkan cacatan lain bukan hanya kandungan besi, yang tinggi di kedua sungai membelah kota Banjamasin tertapi juga terdapat kandungan logam berat lainnya yang kalau tidak diantisipasi berbahaya bagi kesehatan, seperti kandungan tembaga, maupun kandungan timah hitam.
Melihat kondisi sungai yang demikian, maka berbagai kalangan menganjurkan agar pemerintah lebih serius menangani sungai dan membuat peraturan daerah (Perda) tentang sungai yang memberikan sanksi berat kepada warga maupun industri membuang limbah ke sungai.
Dengan upaya demikian diharapkan mamou mengembalikan fungsi sungai bagi kehidupan masyarakat Banjarmasin sekaligus memperkuat posisi kota Banjarmasin yang dijuluki dengan kota air.

http://hasanzainuddin.wordpress.com/2007/11/03/42/vv


"
Apakah saya bisa menurunkan berat badan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! "
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© www.suhendri22.blogspot.com
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top