Warung Online

24 Juli, 2009

TRENGGILING : BINATANG YANG DILINDUNGI DAN YANG DIBURU !


http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/trenggiling-1.jpg?w=220&h=166
Dipasaran gelap internasional harga daging trenggiling, binatang yang dilindungi, mencapai $112 US/kg. Harga jual di restoran bisa mencapai $210 AS/kg dan harga sisiknya per keping mencapai $1 AS. Sedangkan harga jual 1 kg dagingnya dari pengumpul lokal (di Indonesia) mencapai 250 ribu.

Harga jual daging trenggiling yang menggiurkan inilah yang membuat orang-orang memburu teringgiling yang hidup di Indonesia (juga di Malaysia dan Thailand) untuk di ekspor daging dan sisiknya secara ilegal ke para peminat di luar negeri, antara lain ke China, Singapore, Thailand, Vitenam dan Laos demi kepentingan bahan kosmetik, obat kuat, santapan di restoran dan kulitnya untuk bahan pembuatan shabu (narkotika).

Coba kita simak cuplikan2 berita tentang tertangkapnya para pedagang gelap daging dan kulit trenggiling di bawah ini :



1. Kompas, 2 Agustus 2008. “Omzet Trenggiling Miliaran Rupiah”:

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/sita.jpg?w=298&h=225

Perdagangan trenggiling secara ilegal yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan, diperkirakan beromzet ratusan miliar rupiah/bulan. Jaringan perdagangan trenggiling yang dibongkar di Palembang itu merupakan pemasok trenggiling ke China, laos, dan Vietnam.

2. Berita Umum, 27 April 2008. “Penyelundupan Daging Tenggiling Di Kalimantan Selatan” :
Sebanyak 360 satwa tengggiling yang sudah dikemas untuk dijual dagingnya ke luar negeri disita petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan, Kamis 17 April 2008 lalu. Selain daging, petugas menemukan 7 ekor tenggiling yang akan diselundupkan. Daging satwa langka itu disita petugas dari rumah seorang warga Banjarmasin Selatan. Sementara itu, petugas akan melepas kembali tenggiling yang masih hidup ke dalam hutan. Sedangkan daging tenggiling rencananya bakal segera dimusnahkan petugas (liputan6).


3. Padang, Kompas 15 April 2008. “Penyelundupan 23 Tenggiling Digagalkan” :

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/trenggiling-2.jpg?w=300&h=200

Direktorat Polisi Perairan Sumatera Barat menggagalkan rencana penyelundupan 23 tenggiling atau trenggiling dari Kabupaten Kepulauan mentawai. Diduga tenggiling dari Sumatera Barat ini kan diperdagangkan ke luar negri.

4. Bandar Lampung (Lampost 16 Nopember 2006). “Hewan Dilindungi: 208 Ekor Daging Tenggiling Dimusnahkan”:
Setelah sepekan diamankan Badan Karantina Pertanian, Balai Karantina Hewan Kelas I Panjang, 208 ekor daging tenggiling (Manis javanicus) seberat 637,25 kg dalam 20 boks (koli), dimusnahkan di lokasi Pos karantina Hewan, tarahan, Rabu 15 Nopember 2006. Pemusnahan dilakukan pihak karantina karena selain petugas kesulitan mencari pemilik barang, juga keterbatasan sarana. Selanjutnya penyelidikan diserahkan kepenyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). “Penyelidikan terus dilakukan PPNS-BKSDA. Tenggiling memang bukan hewan langka, tapi masuk kategori hewan yang dilindungi,” kata Kepala Seksi Balai Karantina Hewan Kelas 1 Panjang drh Arinaung Siregar di lokasi pemusnahan.



Berita dari Malaysia :

1. George Town (Berita Harian, 15 April 2008). “Perhilitan Rampas Tenggiling RM 50.000” :

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/trenggiling-3.jpg?w=300&h=214

Jabatan Perlindungan Hidupan Liar dan Taman Negara (Perhilitan) merampas 98 ekor tenggiling hidup bernilai RM 50.000 di Kampung Menerung, Kepala Batas dekat sini, semalam. Katanya, semua tenggiling yang dirampas itu disyaki untuk dijadikan makanan eksotik selain dieksport ke beberapa negara jiran dan dijual kepada pemborong tempatan. “Tenggiling hidup juga mendapat permintaan tinggi untuk dijadikan ubat tenaga batin dan dipercayai dijual pemborong dengan harga RM 130 sekilogram,” katanya ketika ditemui di pejabatnya disini, semalam.


2. Bukit Kayu Hitam (Bernama 14 Juli 2008). “UUP Tahan Lelaki Cuba Seludup Tenggiling ke Thailand” :
Unit Pencegah peneludupan (UUP) Bukit Kayu Hitam mematahkan percubaan menyeludup tenggiling ke Thailand apabila berjaya memberkas seorang lelaki tempatan dan merampas 31 ekor binatang itu yang dianggarkan bernilai RP 33.000 di pasaran gelap negara jiran malam tadi.

3. Bernama 27 Juni 2007. “Pihak Berkuasa Thailand Rampas tenggiling, Penyu Dari Pulau Pinang” :
Pihak berkuasa Thailand merampas 60 kotak kayu yang mengandungi kira-kira 250 ekor tenggiling dan 64 ekor penyu species terancam yang diseludup dari Pulau Pinang ke Vientiane, Laos. Lt Thanayod Kengkasikij dari Divisyen Perhutanan Polis berkata dari Laos, kemungkinan haiwan itu dihantar ke China, dengan peminat daging haiwan itu sedia membayar kira-kira 2 juta bath untuknya. “Ia harus menjadi isyarat bagi negara-negara Asia untuk meningkatkan kerjasama untuk mencegah penyeludupan haiwan liar,“ katanya. Thailand terkenal sebagai pusat transit bagi perdagangan haram hidupan liar. Thanayod berkata kebanyakan haiwan itu diseludup dari Indonesia dan Malaysia dan kebanyakan dihantar ke restoran dagang haiwan liar di China melalui Laos. Mook Wongchyakul dari WildAid memberitahu akhbar itu, tenggiling dijual pada harga Bt 1.800 hingga Bt 3.000 (Baht) seekor di sepanjang sempatan Thai-Laos. (RM 1= Bt 11). Katanya seekor tenggiling berzaiz kecil boleh dijual pada harga Bt 7.700 hingga Bt 11.500 (baht) seekor di pasaran China dan haiwan itu dijual bagi daging dan kulitnya.

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/sisik-sitaan.jpg
Sisik tenggiling sitaan Malaysia

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/makan-tenggiling.jpg?w=224&h=300
Seorang wanita penduduk daerah Pai, Tailand Utara, membawa trenggiling yang sudah dikuliti, siap untuk dimasak.



MENGENAL SOSOK TRENGGILING

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/trenggiling-4.jpg?w=340&h=290


Trenggiling atau tenggiling, atau pangolin, bahasa Inggrisnya “Scaly Ant Eater”, atau nama latinnya Manis Javania (untuk jenis trenggiling yang hidup di Indonesia dan Malaysia) adalah hewan mamalia (menyusui) yang tidak bergigi.

Binatang ini hidup di daerah hutan hujan tropis dataran rendah. Makanannya adalah serangga terutama semut dan rayap. Bentuk tubuhnya memanjang. Panjang dari kepala sampai pangkal ekor sekitar 58 cm, sedang panjang ekornya sekitar 45 cm, beratnya sekitar 2 kg. Umumnya trenggiling betina lebih pendek dari trenggiling jantan. Ia memiliki lidah yang dapat dijulurkan hingga sepertiga dari panjang tubuhnya untuk mencari semut disarangnya. Disamping itu trenggiling mempunyai 2 pasang kaki yang pendek, mulut, mata, telinga dan sisik yang sangat keras.

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/sisik.jpg?w=300&h=225

Sisik tenggiling yang bersifat keras, tebal dan tajam itu membantu melindungi dirinya dari musuh. Selain itu ia melindungi dirinya dari musuh dengan cara menggulung badannya hingga seperti bentuk bola. Ia dapat pula mengibaskan ekornya yang bersisik tajam sehingga bisa melukai pengganggunya.

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/bola-trenggiling-2.jpg?w=300&h=225

Trenggiling aktif melakukan kegiatannya hanya di malam hari. Ia mampu berjalan beberapa kilometer dan balik lagi kelubang sarangnya yang ditempatinya untuk beberapa bulan.

Diwaktu siang ia bersembunyi di lubang sarangnya. Diantaranya ada yang tinggal diatas dahan pohon. Ia suka bersarang pada lubang-lubang yang berada dibagian akar-akar pohon besar atau membuat lubang di dalam tanah yang digali dengan menggunakan cakar kakinya. Atau ia menempati lubang-lubang bekas hunian binatang lainnya. Pintu masuk kelubang sarang selalu ditutupnya.

Musim kawin trenggiling jatuh pada bulan April sampai Juni. Setelah sang betina mengandung beberapa bulan, ia akan melahirkan anaknya. Anak yang baru dilahirkan beratnya sekitar setengah kg (500 gr), panjang sekitar 45 cm, dan tak lama setelah lahir anak trenggiling langsung bisa berjalan. Waktu lahir sisik si anak masih lembut, namun akan menjadi keras dalam masa 2 hari. Biasanya induk trenggiling akan menjaga anaknya 3 sampai 4 bulan. Selama itu sang anak sering di bawa-bawa oleh induknya di atas ekornya.

Trenggiling terdiri dari satu jenis (genus) dan 7 spesies / species (rumpun), yaitu spesies :

1. Manis Javania, hidup tersebar di Indonesia, Malaysia dan Indochina.
2. Manis Pentadactyla, hidup di Nepal, Himalaya Timur, Myanmar dan China.
3. Manis Carssicaudata, hidup di India dan Srilangka.
4. Manis Tertradactyla, trenggiling tak berekor yang hidup di Asia.
5. Manis Temmenki, hidup di Asia.
6. Manis Triscuspis, hidup di Asia.
7. Manis Gigantea, hidup di Afrika.

Jika tidak ada penangkaran dan perlindungan yang memadai, maka keberadaan trenggiling di Indonesia dimasa depan akan cepat punah akibat perburuan oleh manusia dan penebangan hutan.

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/anak-trenggiling1.jpg

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/tengiling-pohon.jpg

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/trenggiling-gantung.jpg

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/trenggiling-rumah1.jpg?w=300&h=199

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/trenggiling-susu.jpg?w=230&h=300



Sumber:

- http://www.geocities.com/segambuttamil/pangbio.html
- http://ms.wikipedia.org/wiki/Tenggiling
- http://indianwildlifeclub.com/mainsite/ShowDetails.asp?aid=234&t=1&q=tribes&offset=0
- http://flickr.com/photos/oceloteyes/
- http://iwandahnial.wordpress.com/2008/08/04/trenggiling-binatang-yang-dilindungi-dan-yang-diburu/


Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© www.suhendri22.blogspot.com
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top